Jumat, 01 Januari 2010

SAMBAS MENENUN SEJARAH (II)


Oleh: Syafaruddin Usman MHD



Kesultanan Sambas mempunyai hubungan sangat erat dengan Kesultanan Brunei Darussalam. Demikian pula dengan Kerajaan Matan-Sukadana dan Landak. Raden Sulaiman pendiri Kesultanan Islam Sambas turunan keluarga Kesultanan Brunei Darussalam. Kesultanan Brunei Darussalam diperintah Sultan Muhammad (1362-1402 M) mempunyai seorang putra, Abdul Majid Hasan dan seorang putri Putri Ratna Dewi. Ratna Dewi dinikahkan dengan mualaf Cina Ong Sum Ping. Sultan Muhammad wafat, digantikan putranya Abdul Majid Hasan dengan gelar Sultan Abdul Majid Hasan memerintah Brunei 1402-1408 M. setelah Majid wafat, tidak mempunyai putra mahkota, sebagai penggantinya diangkat Ong Sum Ping sebagai Sultan Brunei gelar Sultan Ahmad memerintah 1408-1425.



Sultan Ahmad dikaruni seorang putri, Putri Ratna Kesuma, dinikahkan dengan bangsawan Arab dari Thaib Mekah, Syarif Ali bin Hasan bin Anamin bin Barkat, kemudian menjadi Sultan Brunei bergelar Sultan Barkat (1425-1432 M). Barkat kemudian digantikan putranya, Sultan Sulaiman, memerintah 1432-1485. Sulaiman kemudian digantikan putranya Sultan Abdul Kahar (1542-1530 M). Kahar digantikan putranya Sultan Saiful Rijal 1533-1581 M.



Sultan Saiful Rijal mempunyai tiga putra, Pangeran Shah Brunai, Pangeran Muhammad Hasan dan Pangeran Muhammad. Setelah Rijal mangkat diangkatlah Pangeran Shah Brunai menjadi sultan bergelar Sultan Shah Brunai (1581-1582). Sultan Shah Brunai tidak mempunyai putra, diangkatlah adiknya Pangeran Muhammad Hasan menjadi sultan bergelar Sultan Muhammad Hasan memerintah Negeri Brunai 1582-1598 M. Adiknya, Pangeran Muhammad, diangkat menjadi Pangeran Bendahara.



Hasan mempunyai tiga orang putra, Pangeran Abdul Jalil Akbar, Pangeran Raja Tengah dan Pangeran Muhammad Ali. Muhammad Hasan wafat, diangkat Pangeran Abdul Jalil Akbar bergelar Sultan Abdul Jalil Akbar memerintah Negeri Brunei 1598-1659 M. Dinobatkannya Pangeran Abdul Jalil Akbar menjadi Sultan Brunai 1598 M, Pangeran Raja Tengah merasa berhak terhadap tahta Brunei karena menurutnya yang berhak menjadi sultan adalah anak sultan, bukan anak Raja Muda. Pangeran Raja Tengah merasa dirinya yang diangkat menjadi Sultan Brunei, karena ia dilahirkan setelah ayahnya menjadi Sultan. Sedangkan Jalil Akbar dilahirkan sewaktu ayah mereka masih bergelar Raja Muda.



Sultan Abdul Jalil Akbar mengambil kebijakan supaya anggapan adiknya itu jangan sampai berlarut. Diangkatlah Pangeran Raja Tengah sebagai sultan di Negeri Sarawak bergelar Pangeran Raja Tengah sebagai sultan di Negeri Sarawak dengan gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah pada 1599 M. Dilantik juga empat orang pembesar kerajaan yang menjalankan roda pemerintahan, masing-masing Datok Petinggi Seri Setia Datok Shah Bandar Indera Wangsa, Datok Amar Seri Diraja, dan Datok Temenggung Laila Wangsa.



Setelah roda pemerintahan berjalan normal, berlayar ke negeri bibinya Raja Bunda permaisuri Sultan Abdul Jalil Sultan Johor di Johor. Perjalanan pulang ke Sarawak, rombongan Raja Tengah dihantam badai, terdamar di Sukadana. Masa itu Negeri Sukadana diperintah Panembahan Giri Kusuma. Kedatangan Raja Tengah diterima dengan baik, disambut upacara kebesaran adat raja. Dengan perantaraan seorang ulama dari Mekah, Syekh Syamsuddin, Panembahan Giri Kusuma memeluk Islam kemudian bergelar Sultan Muhammad Tsafiuddin. Di Sukadana Raja Tengah menunjukkan sifat baik dan selalu merendahkan diri kepada Sultan Muhammad Tsafiuddin. Sultan menjodohkannya dengan adiknya bernama Ratu Suria Kusuma.



Raja Tengah dengan Ratu Suria Kusuma dikaruni tiga orang putra dan dua orang putri. Masing-masing Raden Sulaiman dilahirkan di Sukadana Rabu 10 Syawal 1009 H, Raden Badaruddin, Raden Abdul Wahab, Raden Rasmi Puri dan Raden Ratnawati. Setelah bermufakat dengan istrinya, Raja Tengah bermukim di Negeri Sambas Lama di Sungai Sambas. Pada waktu ditentukan, berangkat Raja Tengah beserta rombongan terdiri dari 40 perahu yang lengkap. Sampailah mereka di Sungai Sambas Besar dan berlabuh di tempat itu dan membangun pemukiman. Tempat tersebut belakangan diberi nama Kota Bangun. Waktu itu Kerajaan Sambas Tua diperintah seorang raja bernama Ratu Sepudak keturunan Majapahit.



Raja Tengah disambut baik Ratu Sepudak, diizinkan mendirikan pemukiman di Kota Bangun. Di Kota Bangun inilah Raja Tengah mulai menyiarkan agama Islam sampai Kota Bangun menjadi semakin ramai, bahkan sampai menjadi pusat penyebaran agama Islam pada waktu itu. Tidak lama setelah kedatangan Raja Tengah bermukim di Kota Bangun dan menjalin hubungan baik, Ratu Sepudak mangkat. Menggantikannya diangkat menantunya bernama Pangeran Prabu Kencana bergelar Ratu Anum Kusuma Yudha.



Ratu Sepudak mempunyai dua orang putri, Raden Mas Ayu Anom dinikahkan dengan Pangeran Prabu Kencana belakangan bergelar Ratu Anum Kusuma Yudha, dan yang bungsu Raden Mas Ayu Bungsu waktu itu belum bersuami. Mempererat hubungan antara Kota Lama dengan Kota Bangun, anak tertua Raja Tengah bernama Raden Sulaiman dijodohkan dengan Raden Mas Ayu Bungsu putri Ratu Sepudak. Setelah setahun pernikahan dilaksanakan, Raden Sulaiman dikaruni seorang putra bernama Raden Bima, dilahirkan di Kota Lama Minggu 1 Zulqaidah 1055 H.



Setelah kelahiran cucunya Raden Bima, maka Raja Tengah pulang ke Sarawak. Berangkatlah Raja Tengah beserta rombongan untuk melanjutkan pemerintahan semula di sana. Sampai di muara Sungai Sarawak, oleh seorang Sakai gila di Batu Buaya, Raja Tengah ditikamnya dengan tempuling. Sampai di istana, raja Tengah wafat dan dimakamkan di Sentubong, Sarawak, Malaysia. Setelah mangkatnya Raja Tengah, Ratu Suria Kusuma pulang ke Sukadana. Raden Badaruddin oleh Panembahan Sukadana digelar sebagai Pangeran Mangku Negara.



Di Kota Lama sistem pemerintahannya menurut adat istiadat kerajaan turun temurun, di mana para pembesar kerajaan bekerja langsung di bawah perintah raja. Wazir Pertama dipegang adik kandung Ratu Anum Kusuma Yudha bernama Pangeran Mangkurat bertugas mengurus perbendaharaan kerajaan dan mewakili raja apabila berhalangan hadir dalam suatu kegiatan kerajaan. Wazir Kedua dipegang Raden Sulaiman mengurus segala hal di luar istana dan memperbaiki kota. Raden Sulaiman dibantu tiga orang menteri, Kiai Dipasari, Kiai Dipanegara, dan Kiai Setia Bakti.



Beberapa tahun setelah penobatan Ratu Anum Kusuma Yudha menjadi raja, timbul perselisihan yang mulanya kecil. Pangeran Mangkurat kurang menyenangi Raden Sulaiman yang berbuat kebaikan dengan rakyat. Perselisihan semakin besar, sehingga tewasnya seorang menteri Raden Sulaiman yaitu Kiai Setia Bakti dibunuh suruhan Pangeran Mangkurat hal tersebut dilaporkan Raden Sulaiman kepada Ratu Anum Kusuma Yudha agar mengambil tindakan bijakasana. Ratu menemukan perbuatan Pangeran Mangkurat yang bertentangan dengan norma agama dan merugikan rakyat banyak.



Menghindari terjadi perang saudara, Raden Sulaiman mengalah dan meninggalkan Ibukota Negeri Kota Lama. Bersama dengan para pengikut dan keluarga yang setia mereka keluar dari Kota Lama menuju tempat yang belakangan dinamakan Kota Bangun. Keluarnya Raden Sulaiman dari Kota Lama terdengar oleh Petinggi Nagur, Petinggi Bantilan dan Petinggi Segerunding. Setelah musyawarah dengan Raden Sulaiman, ketiga petinggi tersebut membawa Raden Sulaiman beserta rombongan menuju ke simpang Sungai Subah. Di sana mereka mendirikan perkampungan yang diberi nama Kota Bandir.



Setelah Raden Sulaiman dari Kota Lama, banyak rakyat yang menyusul pindah ke Kota bandir dan mendirikan pemukiman di Kota Bandir. Sementara Kota Lama semakin sepi. Rakyat tidak tahan dengan perangai Pangeran Mangkurat yang berbuat semena-mena, sedangkan Ratu Anum tidak diperdulikan lagi oleh Pangeran Mangkurat, seolah yang menjadi raja adalah dirinya. Ratu Anum sendiri tidak tahan pula perangai adiknya, mengambil keputusan meninggalkan pula Kota Lama mencari tempat pemukiman baru. Ratu Anum Kusuma Yudha meninggalkan Ibukota Negeri Kota Lama dengan menggunakan tujuh puluh perahu lengkap. Di Kota Bangun singgah sebentar.



Keluarnya Ratu Anum Kusuma Yudha dari Kota Lama terdengar pula oleh Petinggi Nagur, Petinggi Bantilan dan Petinggi Segerunding. Ratu menceritakan keadaan di Kota Lama yang semakin hari semakin sepi, tidak tahan dengan perbuatan Pangeran Mangkurat. Sampai akhirnya Ratu mengambil keputusan membuka pemukiman baru di daerah Sungai Selakau.



Tiga tahun Raden Sulaiman bermukim di Kota Bandir, timbul keinginannya memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Sungai Teberau di Lubuk Madung. Di Lubuk Madung inilah melalui musyawarah keluarga, maka pada Senin, 10 Zulhijjah 1040 H, Raden Sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Islam Sambas pertama dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin (I). Demikian pula dengan adiknya Raden Abdul Wahab digelar sebagai Pangeran Bendahara.



Raden Bima adalah putra sulung Sultan Muhammad Tsafiuddin (I) dengan permaisurinya Raden Mas Ayu Bungsu. Setelah dewasa diutus berlayar ke Sukadana menjumpai sanak keluarga garis neneknya Ratu Suria Kusuma. Kedatangannya disambut dengan meriah oleh Sultan Muhammad Zainuddin. Setelah itu, atas persetujuan keluarga, Raden Bima dinikahkan dengan adik sultan yang bernama Putri Indra Kusuma. Dari pernikahan itu Raden Bima dikaruniai seorang putra yang bernama Raden Milian lahir Minggu, 2 Rabiul Awal 1075 H.



Dinamakan Raden Milian karena ia dilahirkan di Sungai Milian, sungai yang terletak di Sukadana. Setelah cukup lama tinggal di Sukadana, maka timbul keinginannya untuk membawa keluarganya pulang ke Sambas. Setelah mendapat persetujuan Sultan Zainuddin, berangkatlah Raden Bima pulang ke Sambas dengan membawa abak mereka yang baru berumur setahun. Raden Bima disambut dengan adat istiadat kebesaran Kesultanan Sambas.



Setelah kepulangan dari Sukadana, Raden Bima diutus ayahnya Sultan Muhammad Tsafiuddin (I) berlayar ke Negeri Brunai menjumpai keluarga dari garis kakeknya Raja Tengah. Raden Bima pun berlayar dari Sambas dengan tiga perahu yang lengkap dengan alat senjata ke Brunai. Waktu itu Sultan Brunai sedang berada di Kelakak, Raden Bima pun menghadap dan memperkenalkan dirinya. Setelah diketahui Raden Bima adalah putra Sultan Muhammad Tsafiuddin dari Negeri Sambas, dan merupakan cucu dari Raja Tengah, maka Sultan Mahyuddin pun berangkat dari Kelakak pulang ke Brunai. Di Brunai diadakan adat penyambutan secara kebesaran, Raden Bima ditabalkan dengan gelar Sultan Anom.



Tidak lama setelah kunjungannya dari Brunai, Sultan Muhammad Tsafiuddin menyerahkan pemerintahan Kesultanan Sambas kepada Raden Bima. Raden Bima yang digelar Sultan Anom oleh Sultan Brunai setelah dinobatkan menjadi sultan Sambas yang kedua pada 10 Muharram 1080 H, bergelar Sultan Muhammad Tadjuddin. Sedangkan Sultan Muhammad Tsafiuddin (I) diangkat sebagai Yang Dipertuan Sultan Muhammas Tsafiuddin. Tidak berapa lama bertahta di Lubuk Madung, kemudian Sultan Tadjuddin berkeinginan memindahkan ibukota kesultanan dari Lubuk Madung ke Muara Ulakan.



Maka ibukota kesultanan pun dipindahkan di Muara Ulakan di persimpangan Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah dan Sungai teberau. Untuk pertahanan Sultan Tadjuddin mendirikan kubu di muara Sungai Betung. Pada waktu itu sebagai Pangeran Bendara diangkat Raden Ahmad putra Pangeran Bendahara Abdul Wahab. Usia yang cukup tua, pada Jumat 5 Muharram 1081 H, Yang Dipertuan Sultan Muhammad Tsafiuddin I mangkat dalam usia 71 tahun, dimakamkan di sebelah utara istana. Setelah wafat lebih dikenal dengan sebutan Murhum Sulaiman.



Sultan Muhammad Tadjuddin merupakan sultan kedua Sambas. Memerintah 1080 H-1120 H. Masa pemerintahannya Kesultanan Sambas berkembang dengan pesatnya. Di bidang perdagangan menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan tetangga, pada masa itu hasil yang paling terkenal adalah hasil hutan seperti damar dan rotan. Di bidang keagamaan Sultan Tadjuddin membangun masjid dan surau, sehingga Sambas semakin dikenal kerajaan tetangganya. Banyak pedagang yang datang untuk berdagang. Sultan juga menjalin hubungan politik dengan kesultanan tetangganya dengan menikahkan kerabat kesultanan seperti dengan Kerajaan Landak, Mempawah, Brunai, Aceh, Sanggau dan Trengganu.



Tadjuddin dengan permaisurinya Putri Indera Kusuma dikaruniai seorang putra dan lima putri, masing-masing Raden Milian putra mahkota lahir di Sukadana Minggu 2 Rabioul Awal 1075 H, Raden Tengah dinikahkan dengan Opu Daeng Kemasih Pangeran Mangkubumi saudara kandung Opu Daeng Menambon, Raden Zainab dinikahkan dengan Sayid Ali Pangeran Suradilaga dari Aceh, Raden Fatimah dinikahkan dengan Pangeran Temenggung dari Trengganu dan Raden Ratna Kumala dinikahkan dengan Pangeran Timba Bayi dari Siantan berdarah Brunai.



Sultan Muhammad Tadjuddin memerintah Kesultanan Sambas selama sekitar 40 tahun, wafat Jumat 1 Syafar 1120 H dalam usia 65 tahun. Setelah mangkat dikenal dengan sebutan Murhum Bima. Menggantikannya dinobatkan Raden Milian sebagai sultan Sambas ketiga pada Sabtu, 2 Syafar 1120 H dengan gelar Sultan Umar Aqamaddin (I). Raden Milian adalah putra Sultan Muhammad Tadjuddin Murhum Bima dengan permasirinya Putri Indra Kusuma adik Panembahan Sukadana Sultan Muhammad Zainuddin. Dilahirkan di Sukadana Minggu 2 Rabiul Awal 1075 H, dinobatkan menjadi sultan sehari setelah ayahnya mangkat Sabtu 2 Syafar 1120 H. Memerintah Kesultanan Sambas selama 25 tahun sampai mangkat Jumat 2 Rabiul Awal 1145 H dalam usia 70 tahun.



Masa pemerintahannya melanjutkan cita-cita Sultan Muhammad Tadjuddin memajukan dan memakmurkan rakyat Kesultanan Sambas. Islam dijadikan agama resmi kesultanan dan berkembang dengan pesatnya, sehingga banyak mubalig yang berdatangan ke Sambas untuk membantu sultan mengembangkan Islam lebih jauh lagi. Di masanya, rakyat Sambas hidup dalam keadaan berkecukupan dan makmur. Menjalankan roda pemerintahannya, sultan selalu adil dan bijaksana, sehingga Sultan Umar Aqamaddin (I) sampai wafat masih tetap dikenang dengan sebutan Murhum Adil. Sultan Umar Aqamaddin (I) mempunyai seorang permaisuri, Utin Kumala bergelar Ratu Agung, anak Raden Demang Dipanegara dari Kerajaan Landak, dikaruniai 3 orang anak, masing-masing Uray Dinga dinikahkan dengan Gusti Jemadin Pangeran Cakranegara putra Opu Daeng Menambon, Pangeran Adipati Timba Bayi dan Raden Bungsu putra mahkota dilahirkan Minggu 1 Rabiul Akhir 1110 H. Setelah wafat dinobatkanlah putra mahkota Raden Bungsu pada Sabtu 3 Rabiul Awal 1145 H dengan gelar Sultan Abubakar Kamaluddin. Kamaluddin melanjutkan cita-cita pendahulunya Sultan Muhammad Tadjuddin memajukan dan memakmurkan rakyar Negeri Sambas.



Kamalauddin memerintah Sambas didampingi permaisurinya Pangeran Zainab selama sekitar 30 tahun sampai akhirnya mangkat Senin 8 Rajab 1175 H pada usia 65 tahun. Setelah wafat lebih dikenal dengan sebutan Murhum Bungsu. Dikaruniai putra-putri masing-masing Raden Jamak putra mahkota dilahirkan Rabu 3 Rajab 1143 H, Raden Ikran Pangeran Bendahara Seri Maharaja kemudian kelak diangkat menjadi Datuk Raja Tua beristerikan Utin Cahaya putri Pangeran Cakra Negara Gusti Jemadin, Uray Imik bersuami Sayid Muhammad Al Aydrus Pangeran Kusuma Nata, Raden Lasum bersuami putra dari Sayid Ali Pangeran Suradilaga, Uray Fatimah bersuami Pangeran Marta kerabat Brunai, Uray Bungsu bersuami putra dari Pangeran Timba Bayi Pangeran Sumadilaga dari Siantan dan Pangeran Jaya Kusuma atau Pangeran Muda Salungi (lidahnya berbulu).



Masa pemerintahan Sultan Abubakar Kamaluddin, Monterado mulai dibuka dan Cina banyak berdatangan ke sana dari Kerajaan Mempawah untuk menambang emas, sampai kemudian meluas ke Lara dan Lumar.



Raden Jamak putra Sultan Abubakar Kamaluddin Murhum Bungsu dengan permasuri Pangeran Zainab, lahir Rabu 3 Rajab 1143 H, dinobatkan menggantikan ayahnya Selasa 9 Rajab 1175 H dengan gelar Sultan Omar Aqamaddin II. Diangkat menjadi Yang Dipertuan Sambas Selasa 12 Rabiul Awal 1200 H setelah menyerahkan pemerintahan Kesultanan Sambas kepada putra mahkota Raden Gayung yang digelar Sultan Muda Ahmad sebagai Sultan Sambas Sabtu 15 Ramadhan 1207 H. Sultan Muda Ahmad mangkat dalam usia 42 tahun tanpa meninggalkan putra mahkota, maka pemerintahan Kesultanan Sambas diambil alih lagi oleh Yang Dipertuan Omar Aqamaddin II sampai akhirnya mangkat Senin 10 Zulqaidah 1216 H dalam usia 73 tahun.



Menggantikannya menjadi sultan dinobatkanlah Raden Mantri dengan gelar Sultan Abubakar Tadjuddin (I) Selasa 11 Zulqaidah 1216 H. Selama pemerintahan Yang Dipertuan Sultan Omar Aqamaddin II telah terjadi beberapa peristiwa besar, antaranya pemberontakan perkumpulan tambang emas kongsi Cina di Lumar, Lara dan Monterado di daerah Distrik Bengkayang. Semuanya dapat dipadamkan. Kemudian, pertikaian dengan Kerajaan Mempawah mengenai tapal batas kerajaan, dapat diselesaikan dengan tidak memakan korban dan pertumpahan darah. Serta pada 1204 H Sambas diserang Kerajaan Siak dipimpin Said Ali bin Osman yang ingin menguasai emas berlimpah di Kesultanan Sambas. Dua tahun lamanya berperang. Karena pertahanan Sambas dipimpin Sultan Muda Ahmad Raden Gayung cukup kuat untuk ditembus, maka kemenangan ada di pihak Kesultanan Sambas.



Yang Diertuan Sultan Omar Aqamaddin (II) mengutus Datuk Bandar, Haji Abdullah dan Haji Abdulmanan ke Betawi membawa emas untuk dibuat perangkat kesultanan. Utusan tersebut diracun orang dan emasnya dirampok. Namun utusan selamat dan berhasil pulang membawa sisa emas yang masih ada. Namun sewaktu akan memasuki kuala Sungai Sambas, rombongan diserang pasukan Siak, emas yang tersisa diambil, setelah itu mereka melarikan diri. Maka Said ali bin Osman pun membawa emas hasil rampasannya ke Kerajaan Siak. Konon emas hasil rampasan dari Kesultanan Sambas tersebut oleh Said Ali bin Osman dibuat segala perlengkapan kerajaannya.



Sultan Omar Aqamaddin II mempunyai tiga permaisuri dan beberapa orang selir. Dari permaisuri pertama, Ratu Sultan, dikaruniai seorang putra, Raden Gayung digelar Sultan Muda Ahmad lahir Senin 1 Syaban 1165 H dikenal dengan Murhum Gayung. Dari permaisuri kedua, Mas Siti digelar Mas Sultan, dikaruniai dua orang putra, masing-masing Raden Mantri digelar Sultan Abubakar Tadjuddin I lahir Jumat 10 Rajab 1169 dikenal dengan Murhum Janggut dan Raden Sumba digelar Sultan Osman Kamaluddin lahir Kamis 2 Zulqaidah 1184 H dikenal dengan Murhum Osman. Dari permaisuri ketiga Mas Ayu, dikaruniai tiga putra, yaitu Raden Pasu digelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I lahir Sabtu 3 Muharram 1181 H dikenal dengan Murhum anum, Raden Semar digelar Sultan Omar Aqamaddin III atau Murhum Tengah dan Uray Kubu digelar Pangeran Laksamana. Sedangkan dari tiga orang selir, dikaruniai sepuluh orang anak, masing-masing Uray Taju Pangeran Bendahara Seri Maharaja kemudian diangkat menjadi Datuk Raja Tua, Uray Saibah bersuami Pangeran Maharaja dari Brunai, Uray Yusuf Pangeran Temenggung Jaya Kusuma, Pangeran Cakra Kusuma, Uray Fatimah, Uray Bandi, Uray Lamah bersuami Pangeran Bendahara Keranji, Ura Timah, Pangeran Paku Negara dan Uray Bulan bersuami putra Pangeran Temenggung digelar Pangeran Irabia Kusuma dari Matan.



Raden Mantri adalah putra kedua Sultan Omar Aqamaddin II dengan permaisuri Mas Siti yang digelar Mas Sultan. Lahir Jumat 10 Rajab 1169 H, diangkat menjadi sultan menggantikan ayahnya Selasa 11 Zulqaidah 1216 H dengan gelar Sultan Abubakar Tadjuddin I memerintah Kesultanan Sambas selama 13 tahun dan mangkat sewaktu melarikan diri dari serangan Inggris dalam hutan di daerah Senujuh Kamis 20 Ramadhan 1229 H. Sultan Abubakar Tadjuddin I mempunyai seorang putra mahkota, Raden Muhammad atung bergelar Pangeran Adipati. Sewaktu putra mahkota Pangeran Adipati Muhammad Atung diangkat menjadi sultan muda, yang diangkat menjadi Wazir Pertama adalah Raden Pasu Pangeran Bendahara Seri Maharaja. Setahun setengah Pangeran Adipati Muhammad Atung diangkat menjadi sultan muda, karena sakit mangkat tanpa meninggalkan seorang putra, hanya mempunyai tiga orang putri, masing-masing Uray Biru, Uray Timah dan Uray Minah.



Pada masa pemerintahan Sultan Abubakar Tadjuddin I terjadi beberapa kejadian penting. Kesultanan Sambas kembali diserang Kerajaan Siak Seri Indrapura dipimpin Raja Ismail, teradi pertempuran sengit di antara kedua pihak, sehingga banyak memakan korban jiwa. Pasukan Siak dapat dipukul mundur oleh Kesultanan Sambas dipimpin Pangeran Anum Raden Pasu Pangeran Bendahara Seri Maharaja. Dua tahun sejak kegagalan penyerangan pertama, maka penyerangan kedua dipimpin Sultan Siak langsung, Said Ali bin Osman. Pertempuran terjadi di mana-mana memakan waktu cukup lama dengan kekuatan seimbang.



Pada akhirnya pasukan Siak dapat dikalahkan Pangeran Anum. Tak terima atas kekalahannya, pasukan Siak kembali datang menyerang. Penyerangan ketiga ini dipimpin Said Musfata, dan permaisurinya serta seorang panglima perang terkenal Panglima Aru dan Teuku Sambo dari Aceh. Berhari-hari Panglima Aru bertempur menghadapi panglima dari Kesultanan Sambas, Lawang Tendi.dalam pertempuran yang dipimpin Permaisuri Siak, banyak panglima perang Sambas yang gugur. Menyaksikan kenyataan itu, Panglima Anum semakin murka. Dalam pertempuran seru, Pangeran Anum menewaskan permaisuri dari Siak. Akhirnya pasukan Siak terkucar-kacir, sebagian melarikan diri dan sebagian besar menyerah untuk kemudian mengabdikan dirinya di Kesultanan Sambas. Salah seorang panglima perang Siak, Teuku Sambo, mengabdikan dirinya untuk Sambas.



Pemberontakan Kongsi Cina pun teradi. Terjadi peperangan diantara sesama kongsi, akhirnya kongsi Sam Thioe Kioe dapat dikalahkan Kongsi Thay Kong. Atas kemenangannya tersebut, Kongsi Thay Kong merasa sudah mempunyai kekuatan yang hebat sehingga berani mendurhaka kepada Sultan Abubakar Tadjuddin I. mereka ingin melepskan diri dari kewajiban membayar upeti kepada kesultanan. Pertempuran terjadi dahsyat dan meluas sampai ke lembah Sungai Singkawang. Di sekitar Singkawang Pangeran Anum mematahkan perlawanan dengan menduduki kubu pertahanannya. Pada waktu merebut kubu di Monterado, salah seorang panglima Kesultanan Sambas, Teuku Sambo, mantan panglima perang Siak yang kemudian mengabdikan diri untuk Sambas, tewas. Panglima Anum menjadi sangat marah, mengamuk dan membakar kubu pertahanan Kongsi Thay Kong. Perlawanan kongsi dapat dipatahkan sama sekali.



Kesultanan Sambas diserang militer Inggris. Bermula dari laporan beberapa orang nelayan kepada Sultan Abubakar Tadjuddin I pada 24 Juli 1812 M. Tindakan militer Inggris tersebut untuk membalas perlawanan yang dilakukan Pangeran Anum yang menenggelamkan kapal milik Inggris. Laporan rakyat itu segera ditanggapi sultan dan bersiap untuk menghadapi kemungkinannya. Pada waktu itu Pangeran Anum sedang tidak berada di Sambas, berada di Sarawak dan sedang sakit di sana. Maka untuk menggantikannya ditunjuklah Pangeran Muda sebagai pimpinan kesultanan. Pangeran Muda adalah putra Pangeran Anum dari istrinya Datuk Utin.



Mula-mula komandan pasukan Inggris mencoba untuk mendaratkan militer dan amunisi perangnya dengan mengikuti alur Sungai Sambas Kecil. Namun sealu gagal dan terpaksa mundur ke luar kuala. Karena di sepanjang daerah aliran sungai mendapat serangan rakyat di bawah komando Pangeran Muda, Inggris gagal merebut Sambas. Namun karena pengkhianatan rakyat Sambas sendiri, militer Inggris akhirnya dengan mudah menerobos pertahanan Sambas melalui daerah aliran Sungai Sambas Besar dan menuju Kartiasa. Di tempat inilah Inggris mendarat dengan mudah. Melalui Sungai Betung, Inggris melakukan penyerangan hingga berhasil menguasai Sungai Sambas Kecil. Tak sedikit panglima Sambas yang gugur dalam berbagai pertempuran.



Dalam pertempuran sengit, Pangeran Muda terkepung dan gugur dalam mempertahankan Kesltanan Sambas. Dalam 1813 M di atas kubu pertahanan Sambas, berkibar bendera putih, pernyataan menyerah. Sultan Abubakar Tadjuddin terusir dari istana dan melarikan diri di kawasan hutan lindung Gunung Senujuh. Saat itu sultan mendekati usia 60 dan dalam keadaan tidak sehat. Dalam pelarian di hutan lindung itulah Sultan Abubakar Tadjuddin I mangkat Kamis malam 20 Ramadhan 1299 H. Sebagai penggantinya diangkatlah Pangeran Anum menjadi sultan pada Sabtu 1 muharram 1231 H dengan gelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I.



Pertukaran rezim pemerintahan kolonial antara Inggris dan Belanda terhadap ekuasaan feodal lokal di Nusantara dalam 1816 menyebabkan Gubernur Jenderal Inggris Raffles digantikan Gubenur Jenderal Belanda Pieter Both. Pada 25 September 1919 Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I mengikat kontrak dengan kolonial Belanda yang berpusat di Batavia. Dan sejak itulah Belanda mulai menananmkan kolonialismenya atas Kesultanan Sambas. Sejak itu kekuasaan penguasa Sambas dibatasi oleh kepentingan Belanda.



Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I mempunyai dua orang permaisuri dan dua orang selir. Permaisuri pertama Mawnawah bergelar Datuk Utin atau Tengku Utin dikaruniai seorang putra Pangeran Muda yang wafat sewaktu mempertahankan Kesultanan Sambas dari serangan Inggris. Dari permaisuri kedua, Uray Pirak bergelar Sultan Istri putri Datuk Raja Tua Ikram dikaruniai tiga orang anak yaitu Raden Ishak putra mahkota lahir Selasa 7 Syaban 1237 H bergelar Sultan Abubakar Tadjuddin II, Uray Kemala bersuami Uray Musa putra Murhum Osman bergelar Pangeran Kusuma Indra dan Uray Ruai Pangeran Temenggung jaya Kusuma. Dari selir pertama Mas Parbu dikaruniai anak Raden Kencana bersuami Sultan Omar Kamaluddin Murhum Tanjung dan dari selir kedua dikaruniai seorang anak Uray Siti bersuami Uray Mandung putra Sultan Omar Aqamaddin III Murhum Tengah.



Raden Ishak oleh Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran ratu Nata Kusuma. Pada malam Senin 2 Muharram 1244 H Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I mangkat dalam usia 63 tahun setelah memerintah Kesultanan Sambas selama 13 tahun. Pada waktu itu putra mahkota Pangeran Ratu Nata Kusuma masih berusia 6 tahun maka untuk menggantikannya sementara diangkatlah Raden Sumba bergelar Pangeran Bendahara Seri Maharaja menjadi sultan Sambas pada Minggu 2 Muharram 1244 dengan gelar Sultan Osman Kamaluddin.



Penobatan sultan tersebut atas persetujuan badan bernama Majelis Wali yang ditetapkan dengan Besluit Gouvernemen Belanda 6 Mei 1829. Majelis Wali terdiri dari kerabat dekat sultan, sebagai ketua umum adalah Asisten residen Westerafdeeling van Borneo dan sebagai ketua adalah Sultan Osman Kamaluddin, sebagai anggota Pangeran Temenggung Jaya Kusuma dan Pangeran Kusuma Dilaga. Malam Kamis 7 Ramadhan 1247 H bersamaan 4 Maret 1831 karena lanjut usia, Sultan Osman Kamaluddin wafat dalam usia 63 tahun. Osman dikaruniai sepuluh orang anak, masing-masing Uray Lisyah bersuami Pangeran Suta, Pangeran Jaya Ali, Uray Tijah bersuami Raden Temenggung dari Trengganu, Uray Maimunah bersuami Pangeran Kusuma Yudha putra Datuk Raja Tua Ikram, Uray Kalsum bersuami Pangeran Sutanegara putra Pangeran Laksamana Kubu, Uray Musa Pangeran Kusuma Indera beristri Uray Kemala putri Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I Murhum Anum, Uray Halimah bersuami Uray Bujang Pangeran Paku Negara putra Haji Pangeran Paku negara, Uray Samah bersuami Pangeran Puspa putra Pangeran Laksamana Kubu, Uray Siti dan Uray Saa bersuami Sultan Muda.



Menggantikannya sebagai Wakil Sultan diangkatlah saudaranya yang bernama Raden Semar atau Pangeran Temenggung Jaya Kusuma selaku Wazir Kedua pada 5 Maret 1831 dengan gelar Sultan Omar Aqamaddin III lazimnya dikenal dengan Murhum Tengah. Sultan Omar dengan permaisurinya Haji Bunda dikaruniai 18 orang anak, masing-masing Raden Tokok Pangeran Mangku Negara kemudian diangkat menjadi Wakil Sultan dengan gelar Sultan Omar Kamaluddin beristri Uray Kencana putri Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I Murhum Anum, dikenal luas dengan sebutan Murhum Tanjung atau pun Murhum Seberang atau juga Murhum Bintang, Uray Keruak, Uray Maryam bersuami Uray Ahmad putra Datuk Raja Tua Gerang Pangeran Laksamana, Uray Tumpul beristri Uray Bulat putri Haji Pangeran Paku Negara, Uray Mandung Pangeran Kusuma Dilaga beristri Uray Wati putri Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I Murhum Anum, Uray Munah bersuami Uray Mamat Pangeran Suta Negara putra Pangeran Laksamana Kubu, Uray Goleng Pangeran Ratu Mangkubumi Datuk Raja Tua beristri Uray Tiawe putri Pangeran Temenggung, Uray Muhammad Saleh Pangeran Laksamana Pangeran Paku Negara beristri Uray Lamah putri Datuk Raja Tua, Uray Umar, Uray Ismail, Uray Rasyid, Uray Bujang Pangeran Kusuma Dilaga beristri Uray Naiye putri Pangeran Kusuma Negara putra Murhum Osman, Uray Naisyah bersuami Uray Mustafa putra Haji Pangeran Paku Negara digelar Raden Mentri Dalam Suta Negara, Uray Imbuk, Uray Muhammad Pangeran Kusuma Negara, Uray Kumbak bersuami Uray Yusuf Raden Karta putra Pangeran Laksamana Kubu dan Uray Mudah Raden Aria Pangeran Amar Diraja beristri Uray Thifah putri Haji Pangeran Paku Negara.



Setelah putra mahkota Pangeran Ratu Nata Kusuma dewasa dan usianya sudah cukup untuk diangkat menjadi sultan, maka diangkatlah menjadi Sultan Muda dan saudaranya Raden Ruai diangkat menjadi Pangeran Temenggung Jaya Kusuma. Minggu malam 1 Muharram 1263 H bertepatan 5 Desember 1845 Sultan Omar Aqamaddin III mangkat dalam usia 75 tahun, stelah menjabat sebagai Wakil Sultan selama 15 tahun. Kemudian untuk menggantikannya diangkatlah Sultan Muda menjadi Sultan Sambas dengan gelar Sultan Abubakar Tadjuddin II pada Senin 10 zulhijjah 1264 H bersamaan 23 Desember 1846 M, kemudian sultan diikat kontrak oleh Belanda 7 November 1848 M.



Sultan Abubakar Tadjuddin II dengan permaisurinya Ratu Sabar dikaruniai dua orang putra, Raden afifuddin putra mahkota dan Raden Syarifuddin atau Raden Abdul Kahar Pangeran Bendahara Seri Maharaja Ratu Mangkuningrat. Dengan selirnya Mas Siti dikaruniai seorang putri Uray Siti Madinah bersuami Raden Muhammad Bashar Pangeran Paku negara kemudian digelar Pangeran Temenggung Kusuma Negara putra Sultan Omar Kamaluddin. Dengan selirnya Raden Ayu dikaruniai sepuluh orang anak yaitu Raden Abdul Muthalib Pangeran Muda Nata Kusuma, Raden Abdul Manaf beristri Raden Seri Gading putri Sultan Omar Kamaluddin, Raden Nilawati bersuami Syarif Ibrahim Abubakar Al Kadri, Raden Siti Ruminah, Raden Dernoh, Raden Osman Pangeran Mangkurat Pangeran Paku Negara, Raden Muhammad Ali beristri Uray Aisyah putri Pangeran Kusuma Negara, Raden Muhammad Tadjuddin beristri Raden Sulung putri Sultan Omar Kamaluddin, Raden Kuntan dan Raden Baiduri.



Sultan Abubakar Tadjuddin II memerintah Sambas sejak 1846-1855, setelah mangkat dikenal dengan nama Murhum Kelukuk atau Murhum Cianjur. Pada masa kekuasaannya sekitar 1850 M terjadi pemberontakan secara besar-besaran yang dilakukan kongsi pertambangan emas Cina. Mereka bergabung menjadi satu ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan Sambas. Pertempuran terjadi di mana-mana mulai Monterado, Lara, Lumar, Singkawang sampai Pemangkat, Seminis dan sebawi. Pasukan kesultanan kewalahan menghadapi serangan dari kongsi Cina. Untuk menghadapinya sultan minta bantuan pada kolonial Belanda.



Pada 1851 M datang militer Belanda ke Sambas dipimpin Overste Zorg untuk mematahkan perlawanan pemberontak di Pemangkat. Dalam pertempuran merebut benteng pertahanan Pemangkat Overste Zorg gugur dimakamkan di Penibungan. Pada 1854 pemberontakan semakin meluas ke seluruh negeri, maka Belanda mendatangkan lagi pasukan dari Batavia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Andersen. Pemberontakan dapat dipadamkan. Imbalannya sultan mengizinkan Belanda mengerjakan pertambangan emas yang ditinggalkan pemberontak Cina.



Selesai pemberontakan kongsi Cina, terjadi perselisihan di antara Sultan Abubakar Tadjuddin II dengan Pangeran Mangkunegara. Memanfaatkan situasi ini yang merupakan percikan api perang saudara, pada 1855, Belanda mengasingkan Sultan Abubakar Tadjuddin II ke Jawa. Waktu itu putra mahkota Pangeran Adipati Afifuddin masih kecil, menggantikannya diangkatlah Pangeran Mangkunegara sebagai sultan dengan gelar Sultan Omar Kamaluddin pada 10 Mei 1855. Sementara Sultan Abubakar Tadjuddin II diangkat sebagai Yang Dipertuan.



Omar Kamaluddin memerintah Kesultanan Sambas sebagai wakil sultan menunggu putra mahkota Pangeran Adipati Afifuddin dewasa, pada 1866 M Kamaluddin menyerahkan kekuasaannya kepada putra mahkota pada 6 Agustus 1866 M. Sultan Omar Aqamaddin mempunyai banyak istri, di antaranya Uray Kencana putri Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I, Uray Tikus putri Uray Mamat putra Pangeran Laksamana Kubu, Encik Umi dan Hajah Zakiah. Dari perkawinannya dikaruniai putra-putri Uray Aminah Pangeran Rafiah bersuami Sayid Ali, Uray Midah Raden Fatimah, Uray Khalijah Ratu Anum Kusumaningrat menjadi permaisuri Yang Dipertuan Sultan Muhammad Tsafiuddin II, Raden Muhammad Tarahan Pangeran Bendahara Seri Maharaja, Uray Muhammad Bashar Pangeran Paku Negara Pangeran Temenggung Kusuma negara beristri Uray Madinah putri Yang Dipertuan Sultan Abubakar Tadjuddin II, Uray Kimbak Raden Seri, uray Kandar Raden Prabu beristri Raden Siti Ruminah putri Yang Dipertuan Sultan Abubakar Tadjuddin II, Uray Seri Gadung Raden Puspa Kencana, Uray Putri, Uray Jumuh Raden Pardu Jasmirah Haji, Uray Gani Raden Kusuma Raden Temenggung, Uray Saini, Uray Saimu Raden Kusuma Jaya, Uray Sulung, Uray Harun Raden Haji, Uray Zainab, Uray Abdurrahman, Uray Siti Zulaikha, Uray Mardiyah, Uray Abdurrahim, Uray Muhammad Mulia Pangeran Ratu Anum Nata Wijaya Pangeran Ratu Nagkon, Uray Muhammad, Uray Ayu, Uray Muhammad Ali Nafiyah, Uray Sato, Uray Sinak, Uray Dibuy, Uray Ahmad Putra, Uray Siti Maryam, Uray Muhammad Hafira, dan Uray Sifak.



Sultan Omar Kamaluddin setelah menyerahkan pemerintahan Kesultanan Sambas diangkat sebagai Yang Dipertuan. Mangkat 12 November 1877, setelah wafat dikenal dengan sebutan Murhum Seberang atau Murhum Tanjung dan juga Murhum Bintang.



Raden Afifuddin putra Sultan Abubakar Tadjuddin II dengan permaisurinya Ratu Sabar, dilahirkan subuh Kamis 3 Syawal 1257 H bersamaan 18 November 1841 M, diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati. Di Batavia Raden Afifuddin tinggal di rumah Syarif Abdul Kadir untuk diberi pendidikan Belanda. Sedangkan ayahnya dipindahkan ke Cianjur. Setelah beberapa tahun berada di Batavia, dipindahkan ke Galuh di Ciamis. Oleh Bupati Galuh Raden Adipati Kusumadiningrat, pangeran Adipati dididik sebagaimana layaknya seorang putra mahkota dibekali ilmu pemerintahan, ilmu agama, ilmu sastra dan ilmu pasti. Sebagai gurunya ditunjuk juru tulis Bupati Mas Suma Sudibya. Pada 1861 Pangeran Adipati Afifuddin dipindahkan ke Batavia untuk melanjutkan pendidikannya.



Besluit Gouvernemen Belanda 5 April 1861 Pangeran Adipati Raden Afifuddin diangkat menjadi Sultan Muda. Kemudian 23 Juli 1861 oleh Belanda disediakan kapal perang milik Belanda bernama Arjuna untuk mengantarkan Sultan Muda bersama pamannya Temenggung Jaya Kusuma yang dikenal dengan Temenggung Ruai pulang ke Sambas. Menghindari perselesihan seperti di masa yang lalu, maka Sultan Muda dinikahkan dengan Raden Khalijah putri Sultan Omar Kamaluddin. Dengan besluit kolonial Belanda 6 Agustus 1866 M dinobatkanlah Sultan Muda menjadi Sultan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin II, sedangkan Sultan Omar Kamaluddin diangkat menjadi Yang Dipertuan. Saudaranya Raden Syarifuddin sebagai Pangeran Bendahara Sri Maharaja Ratu Mangkuningrat.



Masa pemerintahan Sultan Muhammad Tsafiuddin II lebih menitikberatkan perhatian pada pembangunan dan kesejahteraan rakyat terutama di bidang pendidikan. Banyak mendirikan masjid dan surau, di antaranya adalah Masjid Jami Sultan Muhammad Tsafiuddin II. Masjid ini dibangun bersama Ibunya Ratu Sabar 1 Oktober 1885 M. Pemuda yang berbakat di bidang agama oleh Sultan Muhammad Tsafiuddin II diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Al Azhar Kairo Mesir, di antaranya terkenal adalah Haji Muhammad Basiuni Imran kemudian sebagai Maharaja Imam Kesultanan Sambas. Pada 1871 didirikan sekolah partikuler, mulanya yang belajar di sekolah ini adalah kerabat keluarga Kesultanan Sambas. Pada 9 September 1903 M dengan besluit kolonial didirikan Sekolah Bumiputera Kelas II. Semakin banyak rakyat Sambas yang ingin memperoleh pendidikan di sekolah, sehingga sekolah ini tidak dapat lagi menampung siswa. Untuk mengatasi hal itu dengan besluit Gouvernemen Belanda 1 Desember 1910 m didirikan sekolah Special School yang kemudian 1915 sekolah ini menjadi HIS. Setahun kemudian, 1916, Sultan Muhammad Tsafiuddin II mendirikan sekolah bernafaskan Islam dengan nama Madrasah Sulthaniah. Selain mengadakan pembangunan di bidang pendidikan, juga mengadakan pembangunan di bidang pertanian, perkebunan dan perhubungan.



Banyak digali terusan guna pencegahan banjir, di samping terusan tersebut memudahkan rakyat membawa hasil pertanian dan perkebunan, seperti Terusan Parit Sebuk, Terusan Kartiasa, Terusan Semagau, Terusan Sebangkau, Terusan Semparuk, Terusan Segerunding, terusan Parit Baru dan sebagainya. Di bidang perhubungan Sultan Tsafiuddin II membangun jalan-jalan dan jembatan, baik di dalam kota maupun di luar kota. Seperti dibangunnya jembatan yang menghubungkan Sungai Sambas Kecil, jembatan yang menghubungkan Sungai teberau dan jembatan yang menghubungkan Sungai Subah. Di bidang perhubungan darat juga membangun jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya, sehingga perhubungan menjadi lebih lancar, seperti jalan yang menghubungkan Kota Sambas dengan Kota Pemangkat, Singkawang dan bengkayang. Selama sekitar 56 tahun memerintah Kesultanan Sambas, Sultan Muhammad Tsafiuddin II dapat merubah Kota Sambas menjadi Ibukota Kesultanan yang terpenting di Borneo Barat.



Sultan Muhammad Tsafiuddin II dan permaisurinya Ratu Anum Kusumaningrat dikaruniai tujuh orang anak, masing-masing Raden Ahmad Agus Pangeran Adipati putra mahkota Datuk Iyan, Raden Sandi Brajaningrat, Raden Abubakar, Raden Mahmud, Raden Muhammad Ramang, Raden Sandut, Raden Muhammad Tayeb Pangeran Bendahara Seri Maharaja. Dengan selirnya Encik Nauyah Mas Nyemas dikaruniai tujuh anak masing-masing raden Muhammad Ariadinigrat Pangeran Paku Negara sebagai wakil sultan dengan gelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II, Uray Muhammad Noh, Uray Muhammad Masjid, Uray Muhammad Sani, Raden Jumantan, Raden Mutiara dan Raden Wildan.



Setelah putra tertua Raden Ahmad Agus dewasa maka diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati. Pangeran Adipati sangat terkenal dengan sifatnya yang keras dan sangat membenci kolonial Belanda. Tetapi ia tidak berusia panjang, mangkat pada 1916. Pangeran Adipati mempunyai seorang permaisuri bernama Utin Putri dari Kerajaan Mempawah dan beberapa orang selir Dang Fatimah, Encik Nisbah dan Danf Banun. Dengan permaisurinya dikaruniai empat orang anak yaitu Raden Asyura bersuami Raden Muhammad Yusuf Kusuma Putera putra dari Pangeran Bendahara Muhammad Tayeb, Raden Muhammad Mulia Ibrahim putra mahkota Pangeran Ratu Nata Wijaya kemudian sebagai sultan dengan gelar Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin beristrikan Ratu Mahrum putri Pangeran Bendahara Muhammad Tayeb, Raden Halijah Ratu Sintang bersuami Raden Abdul Bachri Danu Perdana Panembahan Sintang, Raden Zainal beristri Siti Zahrah. Dengan selirnya Dang Fatimah dikaruniai tiga anak yaitu Raden Bujang Tauran Raden Anum beristri Uray Aisyah, Raden Rajimah Taktin bersuami Raden Yakub Adiwijaya putra Pangeran Ratu Nangkon dan Raden Ismail beristri urai Ainiah putri Uray Abdurrahman. Dengan selirnya Encik Nisbah putri Abdullah mempunyai dua anak yaitu Raden Muhammad Bungok dan Raden Hasnah Raden Panji Kusuma Pangeran Laksamana beristri Uray Fatimah putri Raden Muhammadan.



Setelah putra mahkota Pangeran Adipati Ahmad mangkat maka Sultan Muhammad Tsafiuddin II mengangkat putra Pangeran Adipati yaitu Raden Muhammad Mulia Ibrahim sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Ratu Nata Wijaya. Karena Pangeran ratu Nata Wijaya saat ayahnya mangkat masih kecil, maka untuk menggantikannya diangkatlah putranya dari selir yang bernama Raden Muhammad Ariadiningrat sebagai wakil sultan yang memerintah Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II pada 4 Desember 1922 dan Raden Muhammad Tayeb diangkat sebagai Pangeran bendahara Seri Maharaja. Sultan Muhammad Tsafiuddin diangkat sebagai Yang Dipertuan. Dua tahun berselang setelah pengangkatan Raden Muhammad Ariadiningrat sebagai Wakil Sultan. Pada 12 September 1924 Yang Dipertuan Sultan Muhammad Tsafiuddin II mangkat dalam usia 83 tahun.



Dua tahun kemudian setelah Yang Dipertuan Sultan Muhammad Tsafiuddin II mangkat pada 9 Oktober 1926 Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II pun mangkat. Setelah mangkatnya Wakil Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II, pemerintahan Kesultanan Sambas diwakili Wazir Sultan yang disebut Bestuur Commisi yang terdiri dari Controleur van Sambas Stupff sebagai ketua, Pangeran Bendahara Seri Maharaja Muhammad Tayeb, Pangeran Laksamana Muhammadan dan Demang van Sambas raden Tachmid Pandji Anom sebagai anggota, sedangkan penasehatnya Maharaja Imam Kesultanan Sambas Haji Muhammad Basiuni Imran.



Setelah putra mahkota Pangeran ratu Nata Wijaya dewasa, maka diangkatlah menjadi Sultan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin pada 2 Mei 1931. Memerintah Kesultanan Sambas dengan arif bijaksana. Pada masa pemerintahannya kolonial Belanda sudah lama ikut campur dalam segala urusan pemerintahan Kesultanan Sambas. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin merupakan salah seorang korban pembantaian masal fasis militer Jepang di Kalimantan Barat. Nasib trageis demikian dialami pula oleh sebagian besar kerabat Kesultanan Sambas lainnya, termasuk Pangeran Bendahara Seri Maharaja Muhammad Tayeb.



Wafatnya Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin pada 1943, waktu itu putra mahkota masih berusia sekitar 12 tahun, oleh rezim fasis Jepang diangkatlah Raden Muhammad Taufik sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Ratu. Kemudian untuk melaksanakan tugas pemerintahan, fasis Jepang pada 25 Maret 1945 sampai 18 Oktober 1945 membentuk Majelis Kesultanan (Zitirijo Hiyogi Kai) terdiri dari Kenkanrikan di Singkawang sebagai penasehat, Demang Sambas Raden Muhammad Siradj sebagai ketua dan anggota terdiri dari Raden Ismail dan Raden Hasnan.



Setelah Jepang menyerah, di Kalimantan barat, Belanda melalui perantara Sultan Hamid II pada 20 Februari 1946 membentuk dan melantik Majelis Kesultanan Sambas dengan nama Bestuur Commisi terdiri dari Raden Muchsin Pandji Anom Pangeran temenggung Jaya Kusuma sebagai ketua, Raden Hasnan pandji Kusuma Pangeran Laksamana sebagai wakil ketua dan Uray Nurdin Pangeran Paku Negara sebagai anggota dengan penasehat Haji Muhammad Basiuni Imran Maharaja Imam Kesultanan Sambas. Dengan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia 1949, Bestuur Commisi menjadi Swapraja diketuai RM Soetoro dengan Bupati R Hoesni berkedudukan di Singkawang.

Pangeran Ratu Muhammad Taufiq beristri Uray Latifah putri Pangeran Laksamana Hasnan Pandji Kusuma dikaruniai dua orang anak, masing-masing Raden Dewi Kencana dan raden Winata Kusuma digelar Pangeran Ratu. Pangeran ratu Muhammad Taufiq wafat 3 Juni 1984. Sampai 2000 Istana Alwatzikhoebillah baru mempunyai seorang putra mahkota kembali dengan digelarnya raden Winata Kusuma menjadi Pangeran Ratu. Raden Winata Kusuma dinobatkan menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran ratu pada Sabtu 15 Juli 2000. Penggelaran itu dimaksudkan dalam rangka menyambung kebiasaan adat istiadat yang terputus dan sebagai khazanah budaya yang patut dilestarikan, dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar