Jumat, 01 Januari 2010

SAMBAS MENENUN SEJARAH

SAMBAS MERAJUT KISAH MENENUN SEJARAH (I)

Oleh Syafaruddin Usman MHD

Sejarah kerajaan maupun kesultanan Sambas sebelum abad XIV kurang diketahui dengan pasti. Akan tetapu sejak pertengahan abad tersebut, wilayah ini mulai dikenal. Secara resmi nama Kerajaan Sambas muncul sejak kerajaan ini disebut-sebut dalam Kitab Pujasastra Negara Krtagama 1365 oleh Mpu prapanca di masa pemerintahan Hayam Wuruk Rajasanegara bertahta di Majapahit. Dalam naskah Prapanca itu ada bagian khusus yang menyebutkan tentang kerajaan-kerajaan di Tanjungpuri atau Tanjungpura atau Tanjungnagara, kesemuanya nama lain Kalimantan di masa lampau. Seluruhnya ada 21 kerajaan di Tanjungpura yang setiap tahunnya membayar upeti kepada Majapahit. Dari 21 kerajaan itu, 18 di antaranya di Kalimantan Indonesia. Di Kalimantan Barat belakangan disebutkan terdapat empat kerajaan, di mana sambas merupakan satu di antara Landak, Kadangdangan dan Malano.



Sementara, naskah Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya (1865) yang ditulis Raja Ali Haji, pada bagian Jurai Keturunan Raja-raja Kalimantan diuraikan: Raja Majapahit beranakkan Brawijaya. Maka Brawijaya itulah pergi ke Negeri Sukudana (Sukadana), duduk di benua Lama menjadi raja. Maka ialah beranakkan Raja baporang. Maka Raja Baporang beranakkan Pangeran Karang Tanjung. Maka Pangeran Karang Tanjung beranakkan Panembahan Bendala. Maka Panembahan Bendala beranakkan Panembahan Sukudana (Sukadana). Maka Panembahan Sukudana beranakkan Panembahan Ai mala. Maka Panembahan Air Mala beranakkan Panembahan di Baroh. Maka Panembahan di Baroh beranakkan Panembahan Giri Kesukma (Kusuma). Maka Panembahan Giri Kusuma itulah yang beranakkan Sultan Muhammad Saiffuddin.



Syeikh Shamsuddin yang membawa kiriman Quran kecil satu, serta dengan cincin permata yaakub (yaakut, sejenis batu permata seperti juga zamrud, delima, nilam dan sebagainya) besar satu, serta dengan surat gelaran Sultan Muhammad Saiffuddin. Maka Sultan Muhammad Saiffuddin itulah yang bersaudarakan Ratu Surya Kusuma yang dikahwinkan dengan Raja Tengah. Adapun Raja Tengah itu anak Raja Brunei, itulah yang beranakkan Raden Sulaiman. Maka Raden Sulaiman itulah yang digelar Sultan Muhammad Saiffuddin di Negeri Sambas. Karena menyalin gelaran Pak Mudanya (pamannya) di Sukudana bergelar Sultan Muhammad Saiffuddin.



Kesultanan Islam Sambas dirintis pertamakalinya oleh Raja tengah, ayah Raden Sulaiman sultan pertama Sambas, sekitar 1620 M. Raja tengah adalah anak keturunan Sultan Brunei. Istrinya Ratu Surya Kusuma adalah adik perempuan dari penguasa Kerajaan Sukadana (Mantan), Sultan Muhammad Tsafiuddin (Saiffuddin). Pada 10 Dzulhijjah 1040 H, sekitar 1630 M, dinobatkanlah Raden Sulaiman sebagai sultan pertama Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin (I), mengambil gelar pamannya. Sejak saat itu berdirilah Kesultanan Islam Sambas.



Lebih lanjut SMBSR menguraikan: Sultan Muhammad Saiffuddin yang di Sukudana itulah yang beranakkan Sultan Muhammad Zainuddin. Maka Sultan Muhammad Zainuddin itu beranak enam adanya. Yang tua, Putri Kesumba, kedua Pangeran Ratu, dan ketiga Sultan Mangkurat, itu jadi raja di Matan, dan keempat Pangeran Agung Martadipura, kelima Utin Kerupas dan keenam Utin Kerupis adanya. Adapun istrinya Sultan Muhammad Zainuddin itu anak Panembahan Sengkawak (Sengkuwuk) di negeri Mempawah bernama Emas Inderawati. Maka itulah yang beranakkan Putri Kesumba, bersuamikan Raja Bugis bernama Opu Daeng Menambon, lalu dibawanya ke Negeri Mempawah yang jadi raja di negeri mempawah karena sebab sebelah ibunya Putri Kesumba itu, anak Raja Mempawah yang bergelar Panembahan Sengkawak dan nama ibunya Putri Kesumba itu Emas Inderawati.



Ada sumber lain mencatatkan: Setelah Bandala mangkat, naik tahtalah Panembahan Sibiring (Sebiring) Mambal yang lebih luas dikenal dengan gelar Panembahan di Baroh. Ia menduduki tahta, karena putra mahkota Pangeran Sorgi saat itu masih belum mencukupi usianya untuk dinobatkan sebagai raja. Sibiring Mambal bergelar Panembahan Raja Sehari. Seterusnya, ia digantikan Pangeran Sorgi yang kemudian bergelar Panembahan Giri Kusuma. Panembahan inilah yang mula-mula memeluk agama Islam, sejak pernikahannya dengan ratu Mas Zaintan (Mas Zaitun) dari Kerajaan Landak (yang ketika itu pusat pemerintahannya berada di Bandong) dan dikaruniai tiga orang anak. Masing-masing Pangeran Iranata, Ratu Suria Kusuma dan Raden Likar.



Tentang akhir kekuasaan Ratu Sukadana dijelaskan: Saat terjadinya serangan besar-besaran dari Kerajaan Mataram, di mana ratu sendiri beserta kerabatnya yang lain ditawan. Namun menurut sumber lain: Berakhirnya masa keemasan Sukadana disebabkan serangan Kerajaan landak terhadap kerajaan ini karena perebutan intan pusaka Kerajaan Landak yang dikenal dengan nama Intan Ubi (Kubi, Kobi) atau Intan Danau Raja. Perkembangan selanjutnya, sejak itulah kolonial Belanda, sekitar 1604 M, mulai menanamkan kekuasaannya di Sukadana khususnya. Mulanya untuk berniaga hasil bumi. Namun belakangan, melakukan invasinya sebagaimana juga terjhadap kerajaan lainnya di Nusantara. Di sisi lain, Sultan Agung Hanyokrokusumo (Mataram Islam) menundukkan Sukadana, lantaran kerajaan ini menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Surabaya yang merupakan rival Mataram.



Dalam perkembangan seterusnya, Kerajaan Sukadana dipimpin Sultan Muhammad Zainuddin, di mana serangan yang kembali dilancarkan Kerajaan Landak, telah memaksa Zainuddin beserta keluarga dan pengikut setianya mengungsi ke Kotawaringin. Peperangan antara Landak dan Sukadana yang diungguli Landak, tidak lepas kaitannya dengan peranan yang dimainkan Kesultanan Banten, invasi Belanda (VOC) serta campurtangan Inggris. Sultan Zainuddin raja Sukadana, untuk memulihkan kekuasaannya memperoleh bantuan Opu Daeng Menambun dan empat orang saudaranya.



Sebelum pengungsian ke Kotawaringin, Zainuddin sempat pula mengalami perang saudara dengan saudaranya yang berambisi menduduki tahta Sukadana, yaitu Pangeran Agung. Zainuddin anak dari Panembahan Giri Kusuma, di mana ibunya Ratu Mas Zaintan atau Ratu Sukadana, berasal dari Kerajaan Landak. Zainuddin menikah dengan Putri Mas Indrawati, anak Patih Sengkawuk yang memerintah di Sengkawuk, mempawah Tua. Sebelumnya, ia telah menikah dengan seorang perempuan dari Batu Lapis. Dalam hidupnya, Zainuddin dikaruniai empat anak, masing-masing Pangeran Ratu Agung, Putri Kesumba (Ratu Agung Senuhun, istri Opu Daeng Menambon), Pangeran Mangkurat dan Pangeran Agung Kartadipura.



Mangkatnya Zainuddin, tahta kerajaan Sukadana jadi rebutan ketiga anak lelakinya. Berkat kepiawaian Opu Daeng Menambon sang menantu, maka tahta Sukadana dibagi secara adil. Pangeran Mangkurat sebagai sultan pengganti Zainuddin, Pangeran Agung Martadipura mendirikan kerajaan kecil di Kartapura Tanah merah dan pangeran Ratu Agung belakangan mendirikan kerajaan dan dinobatkan, 1735, sebagai Panembahan Simpang bergelar Sultan Kamaluddin. Sementara, Mangkurat kemudian mengalihkan ibukota dari Sukadana ke Matan Indralaya di Sandai.



Sementara itu dari Sisilah Kerajaan Simpang Matn yng disalin ulang 1956, antra lain dlm hubunganya dengan kehadiran Kesultanan Sabas menjelaskan: Brawijaya keturunan Damarwulan. Beranakkan Ratu Kencana. Beranakkan Indra Wijaya yang bergelar Brawijaya. Brawijaya mendirikan dan menjadi raja di Benua Lama. Menikah dengan Putri Junjung Buih beranak dua orang, Rangga Sentap dan Raja Bapurung. Bapurung menikah dengan Dayang Silor putri dari Banjar melahirkan empat anak. Salah seorangnya, Karang Tanjung, mneruskan sebagai raja di Benua Lama 1487-1504. Panembahan Karang Tanjung menikah dengan Putri Kilang dri Brunei mendapatkan anak bergelar Sang Ratu Agung.



Di masa Panembahan Karang Tanjung berkuasa, 1487-1504, pusat kerajaan dialihkan dari Benua Lama ke Sukadana. Setelah Karang Tanjung (Karang Tunjung) wafat 1504, ia digantikan putra mahkotanya Sang Ratu Agung yang dikenal luas dengan nama Pangeran Pundong Asap atau juga Panembahan Air Mala menduduki tahta 1504-1518. Setelah mangkat digantikan putranya, Panembahan Bendala 1518-1526. Setelah Bendala wafat digantikan Panembahan Pangeran Anom bergelar Panembahan Sukadana Murhum Ratu 1526-1533. Setelah wafat digantikan putra mahkota Panembahan di Baroh 1533-1590. Di masa pemerintahannya pusat kerajaan ialihkannya untuk sedikit waktu ke hulu Sungai Melano di Matan



Setelah Panembahan di Baroh wafat, naik tahta putra mahkotanya Pangeran Sorgi. Ia kemudian bergelar Panembahan Giri Kusuma 1590-1604. Giri Kusuma adalah raja Matan Sukadan yang pertama memeluk Islam setelah pernikahannya dengan Ratu Mas Zaintan atau Ratu Mas Zaitun dari Kerajaan Landak. Setelah memeluk Islam Panembahan Giri Kusuma ikenal juga dengan sebutan Panembahan Gusti Muhammad Aliuddin.



Pernikahan Panembahan Giri Kusuma dengan Ratu Mas Zaintan yang kelaknya dikenal sebagai Ratu Sukadana, dikaruniai tiga orang anak, masing-masing: Gusti Kusuma Matan Panembahan Giri Mustika bergelar Sultan Muhammad Tsafiuddin (Saiffuddin), Putri Ratu Surya Kusuma. Putri inilah yang menikah dengan Pangeran Muda Raja Tengah dari Brunei, melahirkan Raden Sulaiman pletak dasar berdirinya Kesultanan Islam Sambas, dan Raden Lekar menikah dengan Utin Periuk dari Meliau, menurunkan keturunan bangsawan di daerah Kapuas dan Sekayam



Kelaknya setelah Panembahan Giri Kusuma mangkat, mengisi kekosongan tahta karena putra mahkota Pangeran Giri Mustika masih kanak-kanak, naik tahtalah Ratu Mas Zaintan bergelar Ratu Sukadana 1604-1622. Dalam peperangan antara Sukadana dan Mataram, Ratu Sukadana tertawan dan diasingkan hingga wafat di Pinggit Jogjakarta. Pasca mangkatnya Ratu Sukadana, maka putra mahkota Gusti Kusuma Matan naik tahta bergelar Panembahan Giri Mutika Sultan Muhammd Tsafiuddin 1622-1665. Di msa pemerintahannya inilah, Pangeran Muda Raja Tengah berkunjung ke Matan dan akhirnya berjodoh dengan saudara kandung sang penguasa, Ratu Surya Kusuma, putri dari Ratu Sukadana Mas Zaintan dan Panembahan Giri Kusuma.



Ketika Matan diserang Mataram, 1622, kendali pemerintahan dan kekuasaan berada di tangan Ratu Sukadana Ratu Mas Zaintan janda Panembahan Giri Kusuma. Ratu Sukadana semula bernama Ratu Mas zaintan putri Pangeran Purba Jayakusuma raja Kerajaan Landak di Bandong. Kedudukan Ratu Sukadana di atas tahta Matan sebagai pelanjut Panembahan Giri Kusuma, sekaligus wali putra mahkota Giri Mustika yang kemudian nanti bergelar Sultan Muhammad Saiffuddin (Tsafiuddin) yang sementara itu belum mencukupi usianya.



Di masa ratu Sukadana masih bertahta, terkesan Kerajaan Landak dan Matan berada dalam satu tangan penguasa, karena Matan dipimpin Ratu Mas Zaintan dan Landak dipimpin oleh saudaranya sendiri, Pangeran Anom Jayakusuma. Kelak, beberapa waktu setelah mangkatnya Ratu Sukadana dalam pengasingan di Pingit setelah tertawan pasukan Mataram, Matan diperintah Zainuddin putra Tsafiuddin yang semula dikenal sebagai Panembahan Giri Mustika. Zainuddin melancarkan serangan untuk menundukkan Landak yang diperintah pamannya sendiri. Landak dapat ditaklukkan. Raja Landak sendiri beserta permaisurinya tertawan ke Matan.



Untuk menebus kekalahan itu, Landak melalui putri Pangeran Anom Jayakusuma, yaitu Puteri Ratu Mas Adi, dengan menyamar sebagai seorang perjaka dengan nama samaran Raden Panji Wijaya, meminta bantuan Kesultanan Banten. Perutusan menghadap sultan Banten Abulhamasim Muhammad Zainul Abidin mempersembahkan dua butir intan dari Landak. Sultan Banten Abidin (1690-1703) mengambulkan permohonan bantuan Landak dengan mengirim pasukan dipimpin pemuda belia Adipati Natakusuma, sang cucu sultan sendiri. Di samping itu, VOC dengan tujuan utama mematahkan sangaingannya EIC Inggris di Matan, turut membantu Landak. Peristiwa ini terjadi 1699 beberapa bulan setelah kekalahan Landak.



Matan di bawah Zainuddin tak dapat bertahan. Sementara Landak sendiri sejak itu menjadi vazal dari Banten. Kelak, semakin rapuhnya kekuasaan Banten, pada 26 Maret 1778 di Banteng Diamant Banten, penguasa Banten Sultan Abul Mafahir Muhammad Aliuddin menyerahkan hak penguasaan Landak dan Matan kepada VOC. Sementara Kesultanan Pontianak yang berdiri 1771, pada 5 Juli 1779 atas nama Gouverneur generaal Reijnierde Klerk dan Radeen van Nederlandsch Indie Willem Adriaan Palm mengakui resmi Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai Sultan Pontianak dan Sanggau. Konon atas pengakuan itu, sebaliknya Pontianak menagkui meminjam tanah erfelijk leen sesuai investiture 5 Juli 1779 tersebut. Dua hari kemudian, didampingi Syarif Kasim dari Pontianak, Willem Adrian Palm berkunjung ke Ngabang menemui Pangeran Sanca Nata Muda (1768-1798) meresmikan penyerahan Landak dari Banten kepada VOC.



Dengan tindakan kolonial Belanda, imperialis Belanda tidak berarti melindungi kepentingan Landak ataupun Matan selamanya. Namun untuk waktu pendek. Hubungan keduabelah pihak didasari interes tertentu. Dan inilah pada suatu kondisi lain disebut sebagai daerah jajahan.



Sepanjang sejarahnya, Kesultanan Islam Sambas sejak 1630 hingga belakangan terakhir telah diperintah tujuh belas orang sultan. Kesultanan Melayu di utara Kalimantan Barat ini dinyatakan resmi berdiri sejak 10 Dzulhijjah 1040 bersamaan 1630 M. Kesultanan Sambas didirikan pad 10 Dzulhijjah 1040 atau sekitar 1630 M tersebut adalah kerajaan Islam yang didirikan secara damai oleh Raden Sulaiman (1009-1081 H/1601-1670 M) putera Raja Tengah dari Kesultanan Brunei Darussalam. Konon, kata Sambas sendiri sudah sangat lama dikenal dan kesultanannya seakan merupakan kelanjutan dari kerajaan di bawah pengaruh Hindu-Animis yang pernah ada sebelumnya di bawah kekuasaan Ratu Sepudak. Kerajaan Sambas Tua di bawah koloni Kesultanan Johor terletak di Kota Lama Sekura. Sebelum menjabat sebagai sultan pertama Sambas Islam, Raden Sulaiman merupakan menteri keamanan dan pertahanan Ratu Anom Kusumayudha dan sekaligus adik ipar Ratu Sepudak.



Konon, jauh sebelum itu, rintitsan awal keberadaan kekuasaan kerajaan Sambas sudah mulai mengemuka. Diperkirakan dalam 1497 M, di Paloh sekarang, berdiri kerajaan kecil di bawah pengaruh animis-Hindu dipimpin seorang bergelar Ratu Gipang. Ibukota semula di Muara Tebangun. Selanjutnya permulaan abad XV pusat kekuasaan dialihkan ke Lubuk Madung. Di sinilah ratu Gipang mangkat dan digantikan penerusnya yang dikenal sebagai Ratu Sepudak.



Dalam 1510, Ratu Sepudak memulai pemerintahannya dengan mengalihkan ibukota kerajaan ke Kota Lama. Meski itu untuk kurun waktu pendek, pusat kerajaan sempat di Bantenan dan terakhir di Tempapan Hulu. Ratu Sepudak beranak dua orang, Mas Ayu Anom dan Mas Ayu Bungsu. Ratu Sepudak didampingi saudaranya, Pangeran Timbang Paseban. Timbang Paseban dikaruniai dua orang anak, Pangeran Prabu Kencana dan Pangeran Aria Mangkurat. Kelak, Pangeran Prabu Kencana dijodohkan dengan Mas Ayu Anom, dan meneruskan tahta setelah ratu Sepudak mangkat. Pangeran Prabu Kencana dan Mas Ayu Anom dikaruniai dua anak, Raden Bekut dan mas Buyung.



Pada saat bersamaan inilah, di Kuala Bangun, Raja Muda tengah atau Raja Tengah beserta pengikutnya mendirikan pemukiman baru. Pasangan Raja Tengah dan Putri Surya Kusuma di pemukiman ini dikarunia putra pertama pada Kamis, 10 Syawal 1009 bersamaan 14 April 1601 M. Putra pertama ini dinamakan Raden Sulaiman. Raden Sulaiman setelah dewasa kelak dijodohkan dengan Putri Mas Ayu Bungsu anak Ratu Sepudak. Setelah melalui waktu yang cukup panjang, pada 10 Zulhijjah 1040 bersamaan 10 Juli 1630 M, dengan restu pamannya Panembahan Giri Mustika Sultan Muhammad Saiffuddin (Tsafiuddin) raja Matan, Raden Sulaiman dinobatkan sebagai sultan di Negeri Kota Bangun dan digelar Sultan Muhammad Tsafiuddin (I). Penobatannya dikukuhkan leluhurkan yang memerintah Kesultanan Brunei Darussalam.



Sultan Muhammad Tsafiuddin II dalam naskah tulisannya, Salsilah Kerajaan Sambas, yang ditulisnya pada Jumat 14 Ramadhan 1321 H bersamaan 14 Desember 1903 M, menguraikan secara khusus: “…Raden Sulaiman dilahirkan oleh Ratu Surya Kusuma (putri dari Panembahan Giri Kusuma Matan dan Ratu Mas Zaintan Landak, pen) di Sukadana pada waktu zuhur hari Rabu tanggal 10 Syawal 1009 H, diberi gelar Sultan Muhammad Shafiyudin (Tsafiuddin) pada hari Senin tanggal 1 Zulhijjah 1040 H, dan meninggal pada hari Jumat tanggal 5 Muharram 1081 H. Beliau kawin dengan Mas Ayu Bungsu binti Ratu Sepudak, melahirkan tiga orang anak yaitu Raden Bima bergelar Sultan Muhammad Tajuddin, Raen Ratnawati bersumikan Pangeran Kesuma Yudha beranakkan Raden Putra digelar Pangeran Suma Yudha, selanjutnya tidak memiliki keturunan anak ketiga Raden Sulaiman adalah Raden Ratnadewi bersumikan Raden Demang bergelar Pangeran Dipa nak dari Ratu Mas Intan raja Negeri Landak, pasangan ini beranak empat, pertama, Utin Kumala yang kawin dengan Sultan Omar Aqamaddin Murhum Adil sultan Sambas ketiga beranakkan Sultan Abu Bakar Kamaluddin Murhum Bungsu sultan Sambas keempat. Kedua, Gusti Osman digelar Pangeran Dipa beranak dua: Pangeran Muka dan Pangeran Temenggung. Pangeran Muka beranak lima: Pangeran Suma Jaya branakkan Utin Fatimah yang bersuamikan Pangeran Badaruddin bin Pangeran Temnggun dari Negeri Brunei, Jumliyah bruamikan Pangeran Suta Negara tidak memperoleh keturunan, Ashfuwan Bun digelar Pangeran Kusuma dan tidak memperoleh keturunan, Pangeran Badaruddin beranak dua orang yaitu Pangeran Muhammad Ali dan Pangeran Dawat, keduanya ini tidak diketahui anak keturunannya karena keduanya berdiam di Negeri Mukah daerah jajahan Brunei. Pangeran Temenggung beranakkan Pangeran Suta Negara yang melahirkan Pangeran Muhammad Arsyad dan Pangeran Yusuf keduanya berdiam di Mukah dan tidak diketahui anak keturunannya. Ketiga, Pangeran Lukman beranak enam orang: (1) Raden Suta Manggala melahirkan Mas Kartas yang melahirkan Mas Perak, Mas Mail, Mas Bulan, Mas Ahmad, Mas Ismuh bergelar Pangeran Suma Jaya, dan Mas Lamah. (2) Raden Raya beranakkan Pangeran Cakra Negara Muhammad Ali, Mas Timah, Mas Antir berlakikan Mas Ibrahim orang Terengganu, Mas Saliyah berlakikan Wak Tarang bangsa Bugis, Ya’ Awal dan Mas Raba. (3) Uray Anting beruamikan Haji Abdul Kadir dari Deli melahirkan Encik Mimah dan Encik Binah masing-masing berlakikan Pangeran Anak dan Ecik Tiku. (4) Uray Eti beuamikan Datuk Bendara bangsawan dari Siam melahirkan Mas Du Makif dan Mas Baha (5). Uray Hitam beruamikan Daeng asal dari Mempawah melahirkan Daeng Alihan beristerikan Pangeran Suta anak Pangeran Cakra melahirkan Uray Bulu isteri dari Pangeran Suma Jaya dari Landak (6) Uray Hamid beranakkan Mas Fanti, Mas Zainaf, Mas Mail, Mas Ishak yang beranak tujuh yaitu Mas Sulung, Mas Ahmad, Mas Utih, Mas Hasan, Mas Fatimah, Mas Susin, Mas Umar dan Mas Yusuf yang beranakkan Raden Yunus, Mas Tajuddin, Mas Siti, Mas Muhammad Ali, Mas Lias dan Mas Hatijah. Kempat, Raden Badaruddin beranakkan Raden Abdul Hamid tidak ada keturunannya, dan Raden Abdul Qadir beranak dua yaitu Raden Abdul Gani Imam Negeri Landak beranakkan tiga belas yaitu Ya’ Mochtar Pangeran Temenggung Natakusumanegara di Negeri Landak, Pangeran Marta, Utin Hasih, Ya’ Abdu Qadir, Ya’ Jongkong, Nyemas Shafiyah, Ya’ Muhammad Khalid, Ya’ Muhammad Bujang, Nyemas Sindut, Nyemas Daye, Ya’ Abdul Hamid dan Nyemas Saudah. Adapun anak Raden Adul Qadir yang kedua bernama Raden Haji bernakkan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Anaknya yang perempuan beruamikan Panembahan Landak, sedangkan yang laki-laki bernama Ya’ Muhammad Saleh beristerikan Uray Tijah anak Pangeran Cakra Negara Muhammad Ali kampong Tumok Sambas dan tidak melahirkan keturunan. (***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar