Minggu, 04 Oktober 2009

DENYUT NADI REVOLUSI KEMERDEKAAN KALIMANTAN BARAT (VII)

PERTEMPURAN DI SELATAN KALIMANTAN BARAT
Oleh: Syafaruddin Usman MHD

Di Jakarta beberapa orang pemuda yang berasal dari Kalimantan Barat, di antaranya Rahadi Ismail Oesman (kemudian lebih dikenal sebagai Rahadi Oesman), Machrus Effendy, Armansyah, Gusti Usman Idris, setelah menyaksikan langsung suasana dikumandang¬kannya proklamasi kemerdekaan, berusaha menghimpun para pemuda lainnya yang berasal dari Kalimantan Barat. Untuk maksud tersebut, Rahadi Oesman bersama Machrus Effendy, di mana keduanya sama¬-sarna sebagai anggota Angkatan Pemuda Indonesia, API, yang berpusat di Menteng 31 Jakarta, merencanakan untuk segera menyampaikan suatu maksud kepada Ir Pangeran Moehammad Noor.

Pangeran Noor adalah seorang putera dari Kalimantan yang diangkat Sebagai Gubernur Kalimantan, sehari setelah kemerdekaan diproklamirkan. Maksud yang akan disampaikan tersebut, menyangkut usaha untuk menyampaikan berita tentang kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Barat, beserta juga mempersiapkan usaha-usaha lainnya dalam rangka tindak lanjut atau manifestasi dari kemerdekaan Indo¬nesia di Kalimantan Barat.

Dalam pertemuan pertama yang berlangsung 27 Seprember I945 antara Rahadi Oesman didampingi beberapa rekannya dengan Gubernur Pangeran Noor, pada prinsipnya gubernur menyetujui keinginan para pemuda tersebut. Selanjutnya, Gubernur Mohammad Noor menugaskan bahwa para pemuda yang akan menuju ke Kalimantan Barat itu dikirim secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia. Juga digariskan, bahwa mereka yang akan melakukan ekspedisi tersebut mengemban tugas utama untuk mempropagandakan kemerdekaan Indonesia,

Lebih mendalamkan maksud tersebut selanjutnya, Rahadi Oes¬man beserta sejumlah rekannya atas anjuran Gubernur Noor ditugaskan untuk menghadap. Mr Amir Syarifudin, yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Penerangan sekaligus juga merangkap sebagai Menteri Pertahanan. Dalam pertemuan dengan Mr Amir Syarifudin, selaku aparat republik, maksud yang disampaikan Rahadi Oesman dan rekan-¬rekannya itu tidak saja disambut baik. namun lebih dari itu, diberikan mandat penuh untuk dapat menyusun suatu barisan yang akan dipersiapkan sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk Kalimantan Barat. Juga menjajagi pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI) di tujuan.

Rencana pemberangkatan telah diatur Rahadi Oesman dan sejumlah rekannya, dari Jakarta menuju Tegal melalui kereta api malam. Akan tetapi, rencana melangsungkan keberangkatan itu mengalami sedikit hambatan. Di dalam perjalanan menuju Tegal, kereta malam yang mengangkut mereka terhenti karena terjadi suatu pertempuran di sekitar Senen, Tanah Tinggi dan Kwitang. Rombongan yang dipim¬pin Rahadi Oesman dan Machrus Effendy untuk waktu sementara menginapkan diri di Asrama Mahasiswa Kwitang Prapatan, selama tiga hari. Untuk itulah sambil menyusun strategi setelah sampai di Kalimantan nantinya, pertengahan November 1945 rombongan dapat menuju Tegal.

Di Tegah kedatangan rombongan Rahadi Oesman telah ditunggu oleh rombongan sebelumnya. Sebagian besar mereka yang akan berangkat menuju Kalimantan Barat ini sebelumnya bermukim di Jogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Semarang dan Surabaya. Disaat keberangkatan rombongan yang dipimpin Rahadi Oesman menuju Kalimantan Barat ini, sejumlah pemuda Kalimantan Barat lainnya yang. tidak ikut serta kembali, seperti Ya' Syarif Umar, Adriani Hardigaluh, Syarif Alwi Mazwar Alhinduan, Nazaruddin Rizal, Zainuddin H Budjang serta lainnya, masih terlibat langsung dalam berbagai kancah pertempuran di Pulau Jawa.

Pada 23 November 1945, menjelang senja, ekspedisi yang dipimpin Rahadi Oesman bertolak meninggalkan pelabuhan Tegal. Mereka dilepas langsung oleh Gubernur Pangeran Moehammad Noor. Rombongan mepergunakan dua kapal motor yang cukup memadai untuk mengangkut mereka,. "Sri 'Kayung" dan "Osaka". Rahadi Oesman dipercayai rekan-rekannya sebagai Komandan. Di samping itu, rombongan ini juga dipimpin oleh sebuah staf yang terdiri dari Machrus Effendy, A Kadir Kasim, Djafar Said dan A Tambunan.

Seluruh anggota yang berangkat berjumlah 43 orang. Rahadi Oesman berada dl dalam Kapal Sri Kayung menetapkan tujuan ,untuk men¬darat di pelabuhan Ketapang, Sedangkan rombongan dengan kapal Osaka dipimpin A Kadir dan Mugni Gaffar akan mendarat di Pontianak.

Udara menjelang Desember 1945 dirasakan sangat buruk. Siang malam hujan turun terus rnenerus, disertai gulungan ombak yang semakin besar. Badai dan gelombang yang menghambat perjalanan tidak dihiraukan betul oleh ekspedisi tersebut. Sebaliknya tekad mereka adalah untuk mendarat di tujuan dengan sesegera mungkin. Setelah dengan susah payah menghadapi badai dan gelombang, awal Desember 1945, Kapal Sri Kayung pun dapat menginjakkan kaki penumpangnya. di pelabuhan pantai Sungai Besar, sekitar 7 Kmn dari Ketapang. Komandan ekspedisi Rahadi Oesman mengingatkan kepada rombongannya agar selalu waspada terhadap kemungkinan-¬kemungkinan yang bisa saja timbul. Selanjutnya, di Kampung Sungai Besar Rahadi Oesman segera menemui kepala kampung setempat, H Abdul Rachim. Oleh H Abdul Rachim, rombongan Rahadi Oesman kemudian ditempatkan di sebuah tempat yang berjarak sekitar 2 Km dari jalan kampung. Hal itu untuk keamanan mereka, mengingat Ketapang dan sekitarnya, beberapa hari sebelum rombongan mendarat, sudah diduduki kembali oleh NICA-Belanda.

Jusuf Mubarak dan Hasan Thaib rnenyampaikan kepada Rahadi Oesman, bahwa termasuk juga Sungai Besar, daerah itu sudah dalam pengawasan NICA-Belanda. Pada malam 2 Desember 1945, Rahadi Oesman bersama. anggotanya mengadakan sebuah rapat, membahas rencana mereka selanjutnya. Rapat itu ikut dihadiri oleh H Abdul Rachim selaku kepala kampung setempat, yang menyatakan bersama masyarakat ikut berjuang dengan rombongan Rahadi Oesman.

Pada malam berikutnya, dengan mempergunakan peralatan radio yang terhindar dari penyitaan Jepang, Rahadi Oesman mencoba untuk mengadakan hubungan kontak dengan Pangeran Noor, Gubernur Kalimantan. Namun, karena. kondisi peralatan itu sudah tak memungkinkan sekali, rencana tetsebut gagal.

Selanjutnya, pada malam berikutnya Rahadi Oesman kembali memimpin sebuah rapat. Dalam rapat tersebut, diputuskan untuk segera mengadakan suatu gerakan, dengan sasaran menyerbu Ketapang. Dan diputuskan pula, A Kadir Kasim akan memimpin beberapa orang lainnya menyerbu Kendawangan. Sedangkan A Latif dan Tamat, ditugaskan untuk mengamati kondisi Ketapang sebelum diserbu. Rencana semula, Ketapang akan diserbu dengan terlebih dahulu membumihanguskan pasar yang ada di sana. Untuk mengimbangi persenjataan NICA¬-Belanda, Rahadi Oesman menugaskan Tarmizi Arsjad untuk mempersiapkan persenjatan tajam secukupnya.

Rombongan yang berangkat dari Tegal tersebut, kecuali Rahadi Oesman, tidak membawa persenjataan sebagaimana layaknya sebuah pasukan yang akan bertempur. Pada Rahadi Oesman hanya berbekal sebuah pistol ficker, dua senapan laras panjang peninggalan Jepang dan dua granat tangan yang diperoleh dan Tamar. Pada hari yang telah ditentukan, dinihari Jumat, 7 Desember 1945, Tamat dan A Latif yang mengamati Ketapang sudah kembali ke Sungai Besar. Namun, sebelumnya di perjalanan kedua anggota rombongan Rahadi Oesman itu antara Sungai. Besar dan ketapang sempat berpapasan dengan patroli NICA-Belanda. Namun juga rupanya sepasukan patroli NICA-Belanda sudah mengetahui tempat pertahanan Rahadi Oesman tersebut. Timbul kepanikan, terutama dikarenakan persenjataan yang tak dimiliki secara menyeluruh. Hanya saja, masing-masing anggota rombongan memegang parang dan. bambu runccing.

Dari jarak yang tak begitu jauh, NICA-Belanda telah membrondongkan tembakan. Peluru-peluru dimuntahkan dari moncong laras senapan mesin dengan tak hentinya. Rahadi Oesman bersama Tamat dan A Latif sudah berada di garis terdepan, mengendap di semak belukar siap menyongsong, kedatangan pasukan NICA¬Belanda. Dalam baku tembak jarak dekat, NICA-Bdanda sempat terkocar kacirkan. Namun, gencarnya tembakan yang dilepaskan pasukan NICA-Belanda, akhirnya merebahkan Rahadi Oesman, A Latif dan Tamat dalam. waktu seketika. Sedangkan Sjafei, dalam keadaan luka parah segera dilarikan anggota rombongan lainnya. Menjelang senja 7 Desember 1945, barulah diketahui pasti bahwa Rahadi Oesman, Tamat dan A Latif telah tewas dalam pertempuran itu. Sjafei sendiri dalam perjalanan menuju Pangkalan Bun menemui ajalnya.

Setelah kontak senjata di Sungai Besar, antara rombongan Rahadi Oesman dan NICA-Belanda, pembersihan besar-besaran dilakukan. Di Ketapang dan Sungai Besar, berpuluh orang yang dicurigai segera ditangkap patroli NICA-Belanda. Sedangkan anggota rombongan yang dipimpin Rahadi Oesman. seluruhnya dapat meloloskan diri untuk meneruskan strategi selanjutnya. Sebagian mereka menyeberang ke Pulau Bawal. Dan sebagian lainnya lagi, di bawah pimpinan A Kadir Kasim menuju Kendawangan. Rombongan yang bertahan di Pulau Bawal selanjutnya dipimpin Machrus Effendy.

Rombongan yang dipimpin A Kadir Kasim di Kendawangan bertemu dengan A Syukri Nour, seorang utusan PPRI Pontianak yang ditugaskan berangkat ke Jawa untuk menyampaikan resolusi PPRI kepada pemerintah Republik Indonesia. Tetapi, karena terhambat keberangkatannya karena tidak adanya perahu yang akan menuju Jawa, A Syukri Nour kemudian menggabungkan diri dengan rombongan A Kadir Kasim. Setelah terjadi kontak senjata di Kendawangan pada 10 Desember 1945, A Syukri Nour tertangkap di Kendawangan. Selan¬jutnya dipenjarakan di Ketapang bersama sejumlah tahanan lainnya seperti Gusti Matan dan Gusti Wadai yang memimpin rakyat pehuluan memasuki Pon¬tianak sekitar Oktober 1945, juga dipenjarakan H Abdul Rachim, Hasan Sastro dan sejumlah tokoh lainnya.

Sementara pertahanan Machrus Effendy di Pulau Bawal terus menerus baku tembak dengan militer NICA-Belanda. Sebuah perahu layar yang merapat di Pulau Bawal dikemudikan Tarmizi Arsjad, H Sjuaib, A Gafur, Salim Azis dan tiga orang wanita, setelah tertembak kemudian tenggelam. Sedangkan penumpangnya dapat mendarat dipulau tersebut.sedangkan Kapal Tanjung Mas yang mengangkut Achmad Machmud, A Rachman Oemri dan H. Atik setelah diserang Kapal Tromp NICA-Belanda kemudian tenggelam. Penumpangnya dapat ditahan dan dipenjarakan di Ketapang bersama tahanan lainnya.

Rombongan yang bertahan di Pulau Bawal kemudian bertemu dengan pasukan yang datang dari Kalimantan Tengah, di bawah pimpinan Muhammad Idris dari Pangkalan Bun. Rombongan ini membawa peralatan senjata dan bahan makanan. Dalam suatu perundingan dengan pimpinan pertahanan di Pulau Bawal, Machrus Effendy, Muhammad Idris mengajukan agar pasukan di Pulau Bawal dikerahkan untuk merebut Kotawaringin. Namun Machrus Effendy masih belum bersedia untuk maksud tersebut, mengingat Ketapang belum sepenuhnya direbut. Karena suatu pertimbangan yang sukar untuk diterobos dalam merebut kembali Ketapang, akhirnya diputuskan untuk meneruskan perjalanan ke Pangkalan Bun dengan beberapa perahu layar.

Menjelang 1946, tak sedikit perahu layar yang menuju Kalimantan. Pasukan Sabilillah di bawah pimpinan Husin Hamzah dan Firmansyah, berangkat 2 Februari 1946 dengan sembilan perahu layar. Demikian juga yang dipimpin Syarif Alwi Alhinduan (1ebih dikenal dengan nama A Mazwar) dan Nazaruddin Rizal. Perahu¬perahu tersebut mendarat di Kuala Jelai, Sukamara dan Teluk Bogam. Di sepanjang daerah perairan terjadi pertempuran. Dalam salah satu pertempuran, Husin Hamzah gugur.

Pada pertempuran lainnya di Air Hitam dan Tanjung Tabuh, hampir seluruh laskar Sabilillah yang dipimpin H Abdulhamid gugur. Mereka yang dapat menyelamatkan diri kemudian memasuki hutan dan pedalaman meneruskan grilya. Syarif Alwi Alhinduan bersama Achmad Zaidi Idrus, seorang warga Malaysia yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Republik In¬donesia, dengan menyamar sebagai penduduk pedalaman, berhasil memasuki Ketapang.

Sejak terjadinya pertempuran di Sungai Besar. 7 Desember 1945 yang dipimpin Rahadi Oesman, militer NICA-Belanda terus menerus mengadakan penangkapan. Mereka yang ditangkapi selain dipenjarakan di Ketapang, juga dikirim ke Sungai Jawi Pontianak, Nusa Kambangan dan Cipinang Jakarta. Sisa-sisa rombongan Rahadi Oesman yang dapat menyelamatkan diri pada umumnya meneruskan perjuangan di berbagai daerah di Kalimantan Barat. Namun juga ada yang kembali menuju Pulau Jawa untuk meneruskan perjuangan kembali di sana. Sebelum kedatangan rombongan Rahadi Oesman di Sungai Besar, sebetulnya di Ketapang sendiri berita mengenai kemerdekaan Indonesia sudah diketahui. Hanya saja berita itu didengar oleh kalangan tertentu saja, karena trauma rakyat terhadap kekejaman Jepang. Dengan demikian, berita penting itu tidak selekasnya menyebar luas. Berita mengenai kemerdekaan Indonesia di Ketapang dibawa oleh seorang putra daerah setempat yang cukup lama bermukim di Pulau Jawa, Abdul Halim H Abdullah.

Kepada sejumlah pemuda tertentu, Abdul Halim kemudian menyampaikan berita tersebut. Untuk itulah. Sekitar September 1945, mulai tersusun suatu usaha propaganda terhadap usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia di daerah selatan Kalimantan Barat itu. Usaha itu diwujudkan dengan segera terbentuknya beberapa organisasi untuk menyatukan gerak langkah perjuangan para pemuda.

Oleh Khaerani Bagal dan M Arbi Jusu£, dihimpunlah sejumlah pemuda yang pernah dilatih dalam kesatuan Heiho di masa pendudukan Jepang ke dalam "Barisan Pembela Proklamasi" atau BPP. Kemudian menyusul dibentuk pula "Barisan Pengawal Kemerdekaan" atau BPK yang dipimpin Herean Jamani, kemudian lahir pula “Angkatan Pemuda In¬donesia" atau API dengan diketuai A Khalik Hasan. Dan terakhir dibentuklah "Persatuan Rakyat Ketapang" atau Perak dengan diketuai Soepomo.

Keseluruhan organisasi ini terus berjalan dengan segala bentuk perjuangannya, hingga terlaksananya Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia. Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tercatat pula dalam suatu pertempuran dengan militer NICA-belanda di Kendawangan telah gugur sejumlah 63 orang pemuda dan masyarakat setempat, di satu kondisi tak berimbangnya segi persenjataan.