Minggu, 04 Oktober 2009

DENYUT NADI REVOLUSI KEMERDEKAAN KALIMANTAN BARAT (VIII)

GERAKAN MEMPAWAH DAN SEKITARNYA
Oleh: Syafaruddin Usman MHD

Dikarenakan situasi di Mempawah dinilai semakin tidak memungkinkan untuk Badan Pemberontakan Rakyat Indonesia Antibar (BPRIA) tetap berpusat di kota itu, dalam sebuah pertemuan antar pengurusnya, pusat BPRIA kemudian dialihkan di sebuah rumah di tengah daerah perkebunan yang berbatasan dengan Kampung Pasir Palembang. Markas BPRIA kemudian ditetapkan di rumah kediaman H Daeman Mamad.

Guna menjalin kekuatan yang ada dalam rangka usaha memper¬tahankan kemerdekaan yang sudah nyata didengar, selanjutnya BPRIA mengadakan hubungan kontak dengan organisasi pergerakan lainnya di luar Mempawah. Melalui perantara beberapa kurir yang dipercaya, dijalin suatu hubungan kontak "Kesatuan Tengkorak Putih" melalui H Umar. Untuk mengadakan hubungan dengan BPIKB di Singka¬wang, dilakukan suatu hubungan antara BPRIA dengan BPIKB melalui kurir M Tahir H Achmad yang berhubungan dengan Wan Abas Mansyur.

Setelah berkali-kali mengadakan hubungan kontak tersebut, selanjutnya BPRIA melebur diri menjadi suatu bagian dari BPIKB yang dipusatkan di Bengkayang. Hal itu dimaksudkan untuk menggalang suatu kekuatan, di mana BPRIA diprioritaskan dalam melakukan sabotase hubungan sepanjang ruas jalan yang menghubungkan Pontia¬nak dengan Singkawang, guna perebutan Kota Bengkayang.

BPRIA Mempawah selanjumya mengutus empat orang utusannya berangkat ke Pontianak untuk mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh pergerakan di sana. Diberangkatkanlah keempat utusan tersebut, masing-masing M. Zainal Abidin, A. K. Mahmud Rakii, H. Ibrahim dan Kadri Hasan. Di Pontianak keempatnya mengadakan sebuah pertemuan di rumah kediaman Khairul A. Rasjid di Kampung Kamboja. Khairul A. Rasjid yang bermukim di Pontianak merupakan penghubung antara BPRIA Mempawah dengan para pemuda di Pontianak.

Rapat yang berlangsung di Kampung Kamboja itu sangat rahasia sekali sifatnya. Se!ain dihadiri keempat utusan dari Mem¬pawah tersebut, juga dikunjungi dr. M. Soedarso dan A. Rachman Zakaria. A. Rachman Zakaria merupakan salah seorang pengurus PRI Landak dan lebih banyak mengadakan hubungan pergerakan bawah tanah dengan Pontianak serta menjadi kurir dalam rencana gerakan di Landak Ngabang.

Keputusan rapat di rumah kediaman Khairul A. Rasjid itu memutuskan, agar dalam waktu selekasnya BPRIA di Mempawah mengadakan suatu aktifitas sabotase. Sasaran yang mudah dilakukan adalah pembakaran Jembatan Pat Kok Tin Kuala Mempawah. Mengenai waktu pelaksanaan sabotase tersebut, selanjumya akan diatur dalam suatu perencanaan oleh BPRIA. Sedangkan untuk melaksanakan sabotase itu sendiri, didapat bantuan berupa minyak tanah dari Sinhak dan Limin, sedangkan karet dan karung goni berupa bantuan yang diberikan oleh H. Daeman Mamad dan H. Saleh HD.

Jarak waktu yang ditempuh memang tidaklah singkat. Sejak dimulainya aktifitas politik BPRIA sejak pembentukannya pada Oktober 1945, pelaksanaan sabotase terhadap Jembatan Kuala Mempa¬wah baru direalisasikan hampir setahun kemudian. Pada 4 September 1946, mengawali rentetan usaha perebutan Kota Bengkayang beberapa waktu kemudiannya, sasaran yang telah direncanakan sejak lama disabotase.

Dalam melakukan sabotase pembakaran Jembatan Kuala Mempawah itu, dipimpin oleh A. K. Mahmud dengan enam orang rekannya. Masing-masing Muhammad Murny, Rakei H. Ibrahim, Kadri A.. Hasan, A. Azis H. Kasim, Kaliri Saleh dan Djamaluddin A. Hamid. Dengan terbakarnya jembatan tersebut, terlebih dahulu di beberapa tempat telah dipajang pamflet berupa ancaman terhadap kaki tangan dan kedudukan militer NICA-Belanda di. Mempawah, menyebabkan timbulnya kepanikan bagi militer NICA-Belanda. BPRIA sendiri dalam melaksanakan sabotase tersebut, sudah merupakan bagian dari BPIKB yang berkedudukan di Bengkayang di bawah pimpinan Alianyang.

Sementara itu untuk menyatukan kekuatan yang ada, dalam rangka melaksanakan rencana kerja BPRIA dan untuk merebut Kota Bengkayang, di Anjungan diadakan sebuah rapat. Dalam rapat yang dilangsungkan di rumah kediaman Thomas Blyse, seorang yang banyak terlibat dan berhubungan dengan PPRI di Pontianak, dihadiri sejumlah pemuda. Di antaranya Mas Syafei, Hasan Fattah. Persoalan utama yang dibicarakan dalam rapat tersebut adalah mengenai perluasan BPIKB hingga ke daerah setempat, serta mengatur strategi dalam menyerbu Kota Bengkayang.

Dalam rapat berikutnya, diputuskan untuk mengadakan pendekatan dengan mengunjungi para pemuda pergerakan yang berada di Toho, Menjalin dan Karangan. Di Menjalin diadakan hubungan kontak dengan M. Napis M. Yasin. Selanjutnya di Karangan diadakan hubungan dengan Raden Putra Gusti A. Murad dan di Tikalong dengan Sa'mah. Dalam pertemuan yang berkali-kali dilaksanakan itu, terkumpul kemudian sejumlah pemuda yang akan memimpin lasykar dari daerah Mempawah, Anjungan, Toho, Menjalin dan sekitarnya dalam merebut Bengkayang. Di antaranya seperti Bangkam, Ujak, Hasan Fattah, Thomas Blyse, Mas Syafei, Ismail Hasan, A. Hamid Hasan, Daeng Faroki dan Sulaiman Daeman.

Namun di dalam perjalanan menuju Bengkayang mereka disergap sepasukan tentara militer NICA-Belanda. Karena tidak berimbangnya persenjataan yang dimiliki kesemuanya tertawan dan kemudian dipenjarakan di Mempawah dan digiring ke penjara Sungai Jawi Pontianak. Demikian juga para pemuda dari BPRIA yang telah melewati Bengkayang menuju Sanggau Ledo, tertangkap di perjalanan sebelum memasuki tempat tujuan. Dalam mempertahankan Kota Beng¬kayang dari perebutan kembali oleh miIiter NICA-Be1anda, salah seorang anggota BPRIA, Arifin Tarip tewas tertembak.

Alianyang sendiri sebelum menjabat selaku komandan BPIKB, sebelum menuju ke Bengkayang sebagai daerah tujuannya dari Pon¬tianak seperti yang diperintahkan dr. M. Soedarso kepadanya, terle¬bih dahulu menyinggahi Mempawah. Penghujung November 1945 Alianyang mengadakan suatu pernbicaraan dengan Maran Ourny di rumah sakit umum Sungai Jawi Pontianak. Maran Ourny waktu itu tengah menjalani suatu opname di rumah sakit tersebut. Kepadanya Alianyang mengatakan, awal 1946 ia akan meninggalkan Pontianak menuju kedaerah pantai utara untuk memperkuat basis pertahanan di sana.

Dalam Februari 1946, Alianyang tiba di Mempawah langsung menemui Maran Ourny di Kampung Terusan. Sepekan lamanya di sana untuk menghindari pengawasan kaki tangan NICA-BeJanda yang banyak bertebaran, Alianyang selanjutnya pindah ke rumah kediaman Ruslan Darmo. Untuk lebih mematangkan rencananya semula, se1anjutnya Alianyang memudiki Sungai Mempawah menuju Air Mati di Toho. Dari Air Mati inilah selanjutnya Alianyang meneruskan perjalanannya ke Bengkayang untuk kemudian ke Sanggau Ledo.

Dalam perjalanannya itu, ia didampingi Mas A. Hamid dan Mas Basjiuni bersama A. Hamid Jusuf. Selama berada di Mempawah. untuk mengalihkan pengincaran yang dilakukan spionase NICA-Belanda terhadap dirinya. Alianyang mempergunakan nama "Indera Marzuki", sinonim dari "Indonesia Merdeka". Selama berada di Mempawah, Alianyang telah berkali-kali mengadakan pertemuan dengan para pemuda dan pemuka masyarakat setempat tentang rencana pergerakannya. Di antaranya mengadakan hubungan dengan Hasan Mustafa dan dengan Rd. Soebardjan Manteri Rumah Sakit Mempawah.
Selain munculnya organisasi BPRIA yang melakukan sabotase terhadap jembatan Pat Kok Tin Kuala Mempawah di daerah Sungai Kunyit juga hampir dalam waktu bersamaan dengan dibentuknya BPRIA, dibentuk pula organisasi serupa. Di Sungai Kunyit berdiri sebuah organisasi dengan nama "Persatuan Pemuda Penyongsong Kemerdekaan Republik Indonesia" pada awal Oktober 1945 disingkat dengan PPKRI. PPKRI diketuai A. Murad AR dengan beberapa pengurus lainnya seperti Zawawi H. Sood, Saleh Amad. Ketang H. A. Rahim dan Usman Amin. Pembentukan PPKRI sendiri setelah melalui suatu pertemuan yang dilangsungkan antara sejumlah pemuda dan pemuka masyarakat daerah setempat. Di antaranya A. Murad AR. Said Naim, A. Samad Yusuf, A. Kadir Kanol, A. Murad Ismail, Ali Usman, Achmad A. Kadir. Ketang H. Ibrahim dan sejumlah lainnya lagi.

Mendahului aktifitas propagandanya dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia lasykar PPKRI pada 5 Oktober 1945 mengadakan suatu penyerbuan ke Pulau Temajo. Hal itu dilakukan untuk merampas persenjataan militer Jepang yang menurut khabar banyak orang. masih tersimpan di sana. Penyerbuan ini dipimpin oleh Usman Amin, Ketang HA Rahim dan Saleh Achmad. Namun yang didapati hanyalah khabar belaka, karena Pulau Temajo sudah dikosongkan Jepang tanpa meninggalkan sepucuk senjatapun.

Demikian juga halnya ketika diusahakan untuk melakukan serbuan ke Gunung Tanjung Sanggau, sekitar Pulau Kijing. Seterusnya pada 11 Oktober 1945, datang dua orang utusan bekas Sumitomo dari Pulau Temajo kepada Kepala Kampung Sungai Kunyit, masing-¬masing Muda Hamid dan Ali Achmad. Keduanya mengabarkan tentang aktifitas orang-orang Cina yang bernaung dengan PKO di Pulau Penibung. Orang-orang Cina melakukan perebutan bekas perusahaan garam Jepang di Pulau Temajo. Selain itu orang-orang Cina dengan membanggakan PKO-nya, meminta diakui sebagai penguasa bersama Sekutu.

Akibatnya, para pemuda di bawah kelasykaran PPKRI mengadakan aksi dengan melakukan pembakaran terhadap Pasar Cina di Sungai Kunyit pada 14 Oktober 1945. Dengan adanya aksi tersebut, orang-orang Cina di sana selanjutnya tidak lagi menunjukkan reaksi apa-apa, khawatir akan serbuan lasykar PPKRI. Selang beberapa hari kemudian. masyarakat dikejutkan dengan suatu perubahan dimana semula bendera Sekutu yang berkibar telah diganti dengan berkibar kembalinya bendera Merah Putih Biru.

PPKRI berusaha untuk mengadakan hubungan kontak dengan tokoh-tokoh pergerakan di luar Sungai Kunyit. Melalui perantara kurir PPKRI, diadakan hubungan dengan Wan Abas di Singkawang, guna menentukan langkah selanjutnya. Dari berbagai kontak yang dilakukan dengan rentang waktu yang cukup panjang, selanjutnya PPKRI menjadi salah satu bagian dari BPIKB yang dipimpin Alianyang. Prioritas gerakannya adalah seperti juga dengan BPRIA, melakukan sabotase terhadap ruas jalan yang menghubungkan Pontianak dengan Singkawang, serta dengan koordinasi BPIKB melakukan perebutan terhadap Kota Bengkayang.

Usaha-usaha awal yang dilakukan PPKRI di saat pembentukannya tidak jauh berbeda dari yang ditempuh BPRIA. Akhir November 1945, PPKRI Sungai Kunyit mengadakan aktifitas penyebaran pamflet-pamflet hingga ke pelosok mengenai berita kemerdekaan Indonesia. Dengan adanya aktifitas BPRIA maupun PPKRI inilah, selanjutnya dengan merata, semula dari lingkungan terbatas, berita mengenai kemerdekaan Indonesia dapat diketahui luas hingga ke Peniraman, Sungai Pinyuh, Sungai Purun, Bakau sampai ke pedalaman dan pelosoknya.