Minggu, 04 Oktober 2009

DENYUT NADI REVOLUSI KEMERDEKAAN KALIMANTAN BARAT (VI)

LASYKAR MERAH PUTIH PERTAHANKAN MELAWI
Oleh: Syafaruddin Usman MHD

Agustus 1945, Jepang menyerah kalah terhadap Sekutu. Oleh pihak Jepang, kenyataan itu sangat dirahasiakannya sekali, di antaranya melakukan sensor ketat atas segala, bentuk pemberitaan tentang kenyataan itu di Nanga Pinoh seorang Kepala Pos Y. Moris, sebetulnya telah mendengar berita mengenai kekalahan Jepang tersebut melewati radio yang dimiliki dan disimpannya dengan sembunyi. Merah Putih bersama lagu Indonesia Raya diperkenankan menyertai upacara itu. Ketika bendera Hinomaru dikibarkan, ternyata bendera terse¬but terjatuh ke tanah. Oleh Bunken Kanrikan bendera tersebut diperintah untuk dikibarkan ulang. Setelah mengibarkan bendera Hinomaru dan Merah Putih dengan menyanyikan lagn Indonesia Raya, Bunken Kanrikan menyampaikan pidatonya.

Dengan suara yang lantang, Bunken Kanrikan menyatakan bahwa ia oleh pimpinannya di¬panggil untuk berangkat ke Sintang. Dan sebelum menutup pidaton¬ya, ia menyatakan agar rakyat Nanga Pinoh-Melawi, memelihara semangat hidup para pemuda. Dan dengan samar ia mengatakan, bahwa kelaknya rakyat di sana akan diberikan kemerdekaan. Sejak berangkatnya Bunken Kanrikan beserta juga aparat Jepang di Nanga Pinoh menuju Sintang, daerah ini mengalami keko¬songan penguasa. Berselang sepekan kemudian, tibalah di Nanga Pinoh rombongan para pemuda yang dulunya dijadikan sebagai Heiho. Para pemuda bekas Heiho itu datang kembali ke Nanga Pinoh, untuk maksud kembali ke kampung halamannya. Kebanyakan mereka bermukim di Kampung Pal. Selain itu, juga untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Pada 9 September 1945, di masjid Kmapung Pal Nanga Pinoh, penuh sesak masyarakat muslim khususnya, melaksanakan sholat Iedul Fitri. Usai sholat itulah, Guntyo Abdulkadir Jailani menyampaikan sebuah pengumuman penting. Dalam pengumumannya itu, Abdulkadir menyatakan tentang kekalahan Jepang terhadap Sekutu. Mendengar penjelasan itu masyarakat yang menghadiri sholat Iedul Fitri tersebut menyambut dengan rasa lega. Sebab dengan sendirinya. berarti kemerdekaan bangsa sudah ada di tangan mereka. Untuk lebih meyakinkan masyarakat Nanga Pinoh, Abdulkadir Jailani menyampaikan pula keterangan yang diperolehnya dari Ade Muhammad Djohan.

Tak berapa lama setelah warga pulang dari sholat menuju rumahnya masing-masing, menderulah sebuah pesawat dalam keadaan terbang rendah. Dari udara, seketika itu pesawat tersebut menebarkan kertas putih yang berhamburan dibawa angin. Setelah surat selebaran dari udara itu dipunguti, didapatkan keterangan tentang kekalahan Jepang. Di dalam pamlet udara itu, juga disertai foto penyerahan tanpa syarat Jepang kepada Sekutu.

Tak berapa lama waktunya setelah kejadian itu, di saat Nanga Pinoh tengah kosong pengendalian pemerintahannya, datang satu pleton polisi perintis di bawah pimpinan seorang Hoofd Agent yang bernama Sandakila. Di dalamnya terdapat polisi dari militer NICA-Belanda yang membonceng Sekutu. Memasuki awal 1946, di Nanga Pinoh tiba seorang Controleur yang bertugas sebagai Onderafdeelingchef (OAC). Ia mendapat tugas untuk melaksanakan pemerintahan sipil di daerah Melawi. Kedatangan OAC beserta perangkatnya itu disambut oleh orang-orang Cina yang menyatakan diri mereka sebagai bagian dari PKO. Setelah Controleur tiba di Melawi, langsung beberapa hari kemudian mengadakan kunjungannya ke pehuluan Sungai Pinoh. Kedatangan controleur selaku OAC itu dilengkapi pula dengan perangkat militernya yang menyandang senjata modern.

Sementara itu, di Nanga Pinoh, badan pembagian yang disebut Kumiai yang dipimpin Ade Muhammad Djohan diubah namanya menjadi Niegio, sebagai sebuah badan pembagian (distribusi) yang berada di bawah pengawasan NICA-Belanda. Tugasnya adalah melakukan pembagian bahan pokok kepada pegawai-pegawai, guru dan juga masyarakat. Saat itu, bahan sandang dan pangan serta keperluan lainnya dibagikan kepada masyarakat luas. Barang-barang yang dibagikan tersebut berlabelkan Australia, yang kesemuanya dibagikan dengan cuma-cuma.

Di pelosok-pelosok Melawi, para pemuda berkumpul dengan sembunyi-sembunyi. Mereka mendiskusikan mengenai kemerdekaan Indonesia. Beberapa selebaran dan pamflet mereka terima dari Nurdin Sidik di Sintang, melalui perantara Supardi A. Tahir, Isja dan Salim yang berada di Nanga Pinoh. Selanjutnya, melalui M. Yusuf Haris diperoleh kepastian mengenai kemerdekaan Indonesia, dari majalah yang dibawanya dari Padang, Sumatra Barat. Maka semakin yakinlah para pemuda di sana mengenai kepastian bahwa Indonesia sudah merdeka. Pada saat tersebut, serdadu-serdadu militer NICA-Belanda telah berada di Nanga Pinoh.

Di rumah kediaman A.M. Djohan sering diadakan pertemuan untuk membicarakan langkah-langkah selanjutnya. Sekalipun Ade Djohan kemudian dipindahkan ke Sintang, namun ia kerap mudik ke Melawi untuk mengetahui sejauh mana persiapan dalam mempertahankan kemerdekaan. Masih pada awal 1946, Chairul Rasjid datang ke Nanga Pinoh menginap di rumah kediaman A. Manan di Kampung Pal Nanga Pinoh. Ia mendiskusikan tentang pergerakan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia di Sumatra dan Jawa, dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sebab Belanda kembali akan menguasai Indonesia. Untuk menindaklanjuti apa yang didiskusikannya itu, Chairul Rasjid kemudian berhubungan dengan Baginda Djalaluddin Hatim, Ade Muhammad Djohan dan M. Saad Aim.

Di Nanga Pinoh segera tersebar berita, bahwa pemerintah Republik Indonesia akan menurunkan sepasukan penerjun payung ke Kalimantan Barat guna mempertahankan kemerdekaan di sini. Untuk hal itulah, pemuda M. Saad, Unut Tahir dan Yusman Bering mengum¬pulkan para pemuda. Di luar itu, kesibukan pejabat NICA-Belanda tidak dihiraukan rakyat. Aparat NICA-Belanda setiap harinya hilir mudik Melawi, Serawai dan Kotabaru. Militer NICA-Belanda sibuk menyebarkan pamf1et yang sifatnya mempropagandakan, perjuangan rakyat di Jawa dan Sumatra sebagai suatu tindakan yang menentang mereka.

Dalam kesibukan yang demikian, bertempat di rumah kediaman A. M. Djohan dan Nawawi, dilangsungkan sebuah pertemuan. Dalam pertemuan itu dirumuskan suatu persiapan untuk menampung pasukan yang akan dikirim oleh pemerintah Republik Indonesia yang akan diterjunkan di perbatasan Nanga Pinoh, Ella dan Melawi. Pertemuan itu antara lain dihadiri Baginda Djalaluddin Hatim, M. Nawawi Hasan, Abang Patul, M. Saad Aim, Itut, Umut Thalib Umar dan Abdurrazak. Seanjutnya dalam musyawarah itu dibentuklah sebuah kepanitiaan kecil yang diberi nama "Badan Organisasi Pemberontak Merah Putih" disingkat dengan BOPMP. Semula organisasi ini diberi nama Badan Pemberontak Daerah Melawi. Selanjutnya, dalam waktu relatif singkat, berita terbentuknya BOPMP ini segera menjadi pembicaraan rakyat di mana-mana di daerah Melawi.

Organisasi BOPMP terbentuk dalam Februari 1946, dengan diketuai Bagindo Djalaluddin Hatim. Dalam komposisi kepenguru¬sannya dilengkapi dengan Bagian Propaganda M. Nawawi Hasan, Pimpinan Pasukan Penggempur dengan komandan M. Saad Aim. Badan Penghubung dipimpin Abang Patul, Bagian administrasi dipimpin Abang Tahir, Bagian Perlengkapan dipimpin Ade Jusman Baduwi dan Usman Ando.

Oleh BOPMP ini, selanjutnya dikirimlah Sutan Maksum sebagai kurir melalui Sungai Pinoh menuju ke Kalimantan Tengah dengan melewati Sungai Sayan dan Geriang. Tujuannya untuk mengadakan hubungan kontak perjuangan dengan Kapten Mulyono dan Tjilik Riwut serta Markasan di Kalimantan Tengah. Selanjutnya dari Nanga Manjul Kalimantan Selatan, datang seorang kurir bernama Wan' Danum bin Syarif Abdurrachman yang membawa dokumen perjuangan untuk disampaikan kepada pimpinan BOPMP. Ia melintasi aliran Sungai Sayan untuk kemudian memasuki Nanga Pinoh.

BOPMP segera bergerak menghubungi rakyat dan khususnya pemuda, guna mempersiapkan rencana perjuangan yang sudah digaris¬kan. Tidak hanya terbatas di Nanga Pinoh, tetapi juga sampai ke Nanga Ella dan Nanga Serawai. Seterusnya di Nanga Ella Hilir dibentuklah sebuah panitia di bawah pimpinan Budjang Muhammad (BM) Aris. Selanjutnya, untuk penelitian persiapan lasykar Merah Putih di Tanah Pinoh, Sayan, Kotabaru dan Nanga Sokan, diutuslah Abang Tahir. Kemudian BOPMP kembali mengadakan sebuah pertemuan khusus, di mana dalam pertemuan itu dilaporkan tentang persiapan pemberontakan Merah Putih telah berjalan di seluruh Melawi dan Sungai Pinoh.

Dalam rangka mematangkan persiapan semula, maka dibentuklah ranting BOPMP, masing-masing di daerah Tanah Pinoh yang meliputi Nanga Sayan di bawah pimpinan H. Ismail, Idris Syafei dan Supardi. Di Nanga Sasak dipimpin Dabab H. Arsyad, di Kerangan Puan dipimpin Abang M. Ali, di Boli Pintas dipimpin Uti Ukini, di Kepala Gading dipimpin Tahir, di Madong dipimpin Abang Syahdan dan H. Mara dan di Nanga Sokan dipimpin Abang H. Dol dan Abang H. Ibrahim. Untuk Nanga Ella Hilir dipimpin B. M. Aris. Persiapan-persiapan yang telah dilakukan selanjutnya dila¬porkan kepada Kapten Mulyono dan Kapten Markasan yang selanjutn¬ya disampaikan pula kepada pimpinan BOPMP Bagindo Djalaluddin Hatim di Nanga Pinoh. Untuk mengadakan suatu gerakan, waktunya masih ditangguhkan menunggu datangnya bala bantuan dari Kaliman¬tan Selatan yang akan dipimpin Kapten Markasan, yaitu Pauskan Sumpit Mandau Telabang. Selain itu juga diputuskan markas perger¬akan di Tanjung Lay, sekitar 12 Km dari Nanga Pinoh di rumah kediaman Sjukur bin Muntor.

Sampai beberapa waktu setelah rapat dilangsungkan, bantuan dari Kalimantan Selatan belum juga tiba di Nanga Pinoh, maka ditugaskanlah Abang Patul untuk menyusul Kapten Markasan dan Kapten Mulyono. Menjelang akhir Oktober 1946, Abang Patul berang¬kat dengan mempergunakan sampan dengan menyusuri sungai. Di Riam Kinsang, Abang Patul bertemu dengan utusan dari Kapten Mulyono, yaitu Silik dan Pasir, kedua kurir ini bermaksud menemui Bagindo Djalaluddin Hatim untuk menyampaikan sebuah dokumen penting tentang rencana pemberontakan.

Daerah Nanga Pinoh telah diserah¬kan oleh Demang Hadral kepada pasukan Mandau Telabang, demikian pula daerah Kotabaru diserahkan oleh Pangeran Agung Kertasari. Maka seluruh wilayah tersebut sudah berada di bawah kekuasaan lasykar Merah Putih dengan BOPMP-nya. Sementara itu TK Liwoeh mendapat tugas untuk memudiki Nanga Sayan menanti kedatangan pasukan bantuan dari Sumpit Mandau Telabang di sana. Pada 10 November 1946, lasykar bantuan telah berada di Tanjung Lay, markas pemberontakan Merah Putih. Pasukan pemberon¬takan telah disiapkan, dari Nanga Pinoh pimpinan pasukan penggempur M. Saad Aim telah berangkat menuju Tanjung Lay. Setibanya di Tanjung Lay, lasykar Mandau Telabang telah berada di sana bersama Kapten Markasan selaku pimpinannya.

Sambil menunggu kedatangan TK Liwoeh membawa pasukan sumpit dan mandau untuk penyerbuan ke Nanga Pinoh, lasykar Merah Putih yang sudah berkumpul di markas BOPMP mengadakan sebuah pertemuan khusus. Rapat dipimpin langsung oleh Bagindo Djalaluddin Hatim. Dalam rapat itu hadir antara lain Bagindo Djalauddin Hatim, M. Saad Aim, Umut Thalib, A. Sjukur Muntut, Leman Dombek dan Kapten Markasan. Dalam rapat itu diputuskan pembagian tugas penyerbuan utama dengan sasaran tangsi militer NICA-Belanda di Nanga Pinoh. Selanjutnya, penyerbuan tangsi dilakukan dari Sungai Melawi, kemudian menyerbu rumah mantri polisi di Kampung Tanjung, menyerbu rumah kediaman Controleur, menyerang kantor pos Nanga Pinoh, menyerang rumah kediaman Hoofd Agent Polisi dan menyerbu rumah Demang Nanga Pinoh. Setelah selesai rapat 8 November 1946, lasykar Merah Putih mempersiapkan diri untuk segala sesuatunya.

Pada 9 November 1946 tengah malam, di rumah kediaman Sjukur Muntut di Tanjung Lay, diadakan upacara.pengibaran bendera Merah Putlh oleh lasykar BOPMP. Setelah selesai upacara 1tu, lasykar BOPMP selanjutnya meninggalkan Tanjung Lay menuju sasaran masing-masing yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam perjalanan menuju masing-masing sasaran, lasykar Merah Putih bertemu dengan sebuah perahu yang di dalamnya mengangkut Abang Tahir dan Abang Santui dalam keadaan tergesa-gesa. Oleh Abang Tahir disampaikan. bahwa di Nanga Pinoh semua tentara NICA-Belanda dengan KNILnya beserta juga polisi perintis tidak berada di tempat.

Selanjutnya menjelang pergantian waktu, memasuki 10 No¬vember 1946 tengah malam, sampan yang mengangkut para lasykar BOPMP telah merapat di Pantai Melawi. Di sana baru diketahui, bahwa Controleur J. Herman siang tadinya mudik ke Nanga Serawai. Dengan demikian, ketika rumah kediaman controller tersebut diserbu, dalam keadaan kosong. Hanya ada beberapa orang polisi yang berada di sana, dan mereka sendiri tidak memberikan perlawanan. Demikian pula pada sasaran penyerbuan lainnya, dalam keadaan kosong.

Seterusnya kantor controleur dijadikan sebagai markas Merah Putih oleh pimpinan BOPMP. Tangsi militer NICA. Belanda sendiri dapat dengan mudah diduduki. Paginya, 10 November 1946, seluruh lasykar BOPMP telah berkumpul di halaman kantor controleur. Di sana kemudian dilaksanakan apel pengibaran bendera Merah Putih dipimpin Bagindo Djalaluddin Hatim. Pada hari itu, 10 November 1946, dinyatakan bahwa Nanga Pinoh dan Melawi sebagai bekas Onderafdeling van Melawi serta bekas Gouvernement Tanah. Pinoh, merupakan daerah kekuasaan lasykar Merah Putih yang merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah Republik Indonesia.

Di markas BOPMP yang semula kantor controleur, disusun rencana se1anjutnya untuk melakukan penangkapan terhadap Contro¬leur Nanga Pinoh J. Herman yang berada di Nanga Serawai hulu Sungai Melawi serta melakukan penyelidikan ke Sintang untuk menyerbu Sintang. Untuk menjaga kemungkinan kedatangan bala bantuan NICA¬-Belanda, tiga orang lasykar BOPMP masing-masing Tangsi, Getol dan Bujang Selipan ditugaskan merobohkan jembatan di Kaninjal yang menghubungkan dengan Pemuar.

Untuk menawan controleur Herman di Nanga Serawai, 11 November 1946 diberangkatkan satu regu Merah Putih dengan dipimpin Usman Cantik. Bersama Usman Cantik ikut serta berangkat Ismail Galang, Basri A. Rani, Tambi, Halet, Hasim dan Jais. Sementara untuk mengamati keadaan di Sintang. pada 13 November 1946 dikirim sebanyak tiga orang kurir. Mereka kemudian melaporkan kepada Kapten Markasan tentang situasi di Sintang. Waktu itu, panembahan di Sintang dijabat oleh Raden Syamsuddin.

Raden Syamsuddih sepenuhnya menyatakan mendukung pergerakan rakyat. Pernyataan panembahan. itu disampaikannya langsung kepada M. Saad Aim. Selanjutnya, di markas BOPMP diputuskan untuk menyerbu Sintang pada 15 November 1946. Selain menyampaikan maksud dukungannya terhadap pergerakan rakyat, Raden Syamsuddin juga mengutus Ade Aroy dari Sintang membawa suratnya kepada pimpinan BOPMP agar segera menyerbu ke Sintang.

Tanpa mendapatkan perlawanan, controleur J. Herman berhasil ditawan lasykar Merah Putih di Nanga Serawai. Selanjutnya pada 13 November 1946, controleur Herman selaku Kepala Onderafdeeling bersama staffnya diangkut ke Nanga Pinoh sebagai tawanan. Selama berada di Nanga Pinoh keberadaan tawanan itu dirahasiakan pimpinan BOPMP, agar rakyat tidak bertindak menghabisinya. Sementara itu, di Pontianak dan Sintang, militer NICA-Belanda telah mendapat laporan tentang kejadian di Nanga Pinoh dan sekitarnya.

Seterusnya, pada 15 November 1946, dengan mempergunakan sampan dilengkapi bendera Merah Putih, lasykar untuk menyerbu Sintang diberangkatkan. Pasukan Merah Putih yang tidak ikut diberangkatkan ke Sintang, melakukan penjagaan menduduki Nanga Pinoh untuk pengaman dari serbuan bantuan NICA-Belanda. Lasykar Merah Putih yang melakukan penjagaan di Kampung Tanjung dipimpin M. Saad Aim bersama Umut Thalib, Atot Achmad, Hasim. M. Bakri dan lain-lainnya.

Malam harinya di batik pekat gelap gulita dan hujan turun rintik, bala bantan rniliter NICA-Belanda di bawah pimpinan Kapten Martin yang datang untuk me-rebut kembali NangaPinoh melakukan serbuan dengan melepas tembakan-tembakan. Tak sedikit lasykar BOPMP yang tertembak. Selanjutnya, oleh bala bantuan tersebut Nanga Pinoh dikepung dengan tiga kapal NIRUB dari tiga jurusan.

Dalam pertempuran menghadapi bala bantuan NICA-Belanda itu, telah merenggut jiwa Umut Thalib. Selanjutnya, karena persenjataan yang tak berimbang, lasykar Merah Putih mrngundurkan diri melalui Sungai Pinoh dan jalan pantai Tanjung Lay, untuk selanjutnya menyusuri mudik Sungai Pinoh. Baku tembak terus berlanjut. Keesokan harinya pada 16 November, Kota Nanga Pinoh kembali direbut militer NICA-Belanda, setelah hampir sepekan lamanya dikuasai !asykar Merah Putih sejak 10 November 1946. Dalam per¬tempuran mempertahankan Nanga Pinon itu, di antaranya telah gugur Umut Thalib, Sulaiman, Hasjim, Jusuf, M. Bakri dan Djafar. Selain itu terdapat. pula yang luka para seperti Umar Tahir, M. Sjarif, Darma, Jabar dan Tambi.

Dalam sebuah pertempuran yang terjadi baku tembak dengan serunya, M Saad Aim kehabisan peluru. Ketika. itulah ia berhasil tertangkap, selanjutnya oleh tentara militer NICA-Belanda, M. Saad Aim digiring bersama Agus ke dalam kapal NIRUB. Dalam perjalanan menuju Sintang, mereka disiksa habis-habisan. Karena penyiksaan yang begitu beratnya, setelah dua hari berada di penjara Sintang, M. Saad Aim menemui ajalnya.

Operasi pembersihan yang dilakukan militer NICA-Belanda dengan tentara KNIL-nya terus berlanjut. Lasykar Merah Putih yang dipimpin Mad Samin bersama Kamaruddin dan Abu Bakar Larab untuk menyerang Sintang, urung dan terpaksa mengundurkan diri. Penduduk yang telah kehilangan, harta benda dan tempat tinggal mereka, mengungsi ke Bukit Siau. Di bukit ini mereka menggabungkan diri dengan lasykar Merah Putih yang membuat pertahanan di sana. Kapten Martin yang memimpin operasi pembersihan kemudian digantikan Sersan Palar Lasamahu, menuju ke Kotabaru. Operasi pembersihan terus dilakukan mulai dari Karangan Purun, Kepala Gading, Nanga Sasak hingga Kampung Mancur di Sayan. Pengkhianatan yang dilakukan seorang pimpinan lasykar Merah Putih, tidak hanya dengan membantu membebaskan controleur Herman. Namun juga, merangkap seorang kurir BOPMP yang berhubungan dengan pasukan Mandau Telabang, yaitu dengan menangkapi secara muslihat atas diri Sutan Maksum.

Namun, Sutan Maksum untuk semenrara dapat meloloskan diri, sekalipun akhirnya dengan suatu muslihat kembali, akhirnya ia tertangkap. Operasi pembersihan di daerah Melawi terus berlanjut, sejak 15 November hingga penghujung 1946. .

Dalam suatu pertempuran mernpertahankan diri, di dekat Bukit Durian antara lasykar Merah Putih dan pasukan Mandau Telabang (MN 1001/MTKI) dengan militer NICA-Belanda, Kapten Markasan kehabisan peluru. Sedangkan dalam keadaan terluka T. K. Liwoeh dan Bagindo Djalaluddin Hatim berhasil tertangkap. Setelah keluarganya ditawan, akhirnya Kapten Markasan tewas di ujung bedil militer NICA-Belanda dengan sangat mengenaskan. Tercatat, dalam mempertahankan “Tanah Melawi" tidak sedikit lasykar Merah Putih yanggugur. Di antaranya adalah M. Saad Aim yang disiksa. hingga tewas di dalam penjara di Sin tang pada 18 November 1946, Kapten Markasan, Umut Thalib, Hasjim Achmad, Jusuf Djalal, Harun Masrik yang ditembak mati di Nanga Pinoh. Sulaiman Cegat, Djafar Anjol, M. Bakri Rasjid, Atot Achmad yang meninggal akibat beratnya siksaan dan penderitaan yang ditimpakan kepadanya selama dalam tahanan di Penjara Cipinang serta Achmad Bantam yang ditembak mati di Nanga Sayan.